Ini Lho Batik Ciprat Karya Penyandang Disabilitas Yang Lagi Ngehits

by Admin 63 views

Merdeka.com, Jawa Tengah - Keterbatasan tampaknya bukan alasan seseorang untuk tetap berkarya. Seperti yang dilakukan oleh para penyandang disabilitas atau penerima manfaat di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita (BBRSBG) Kartini Kabupaten Temanggung.

Dari beragam karya seni yang mampu mereka hasilkan, batik ciprat merupakan salah satu yang menjadi ikon. Kerajinan ini sengaja dipilih karena proses pembuatannya yang tidak rumit serta dapat dengan mudah dikerjakan oleh penyandang disabilitas intelektual.

Kepala BBRSBG Kartini, Murhardjani, mengatakan, inspirasi mengajarkan pembuatan karya batik ciprat berasal dari salah seorang inovator asal Semarang yang mampu menciptakan berbagai karya seni sederhana bagi para penyandang disabilitas.

Tak seperti batik pada umumnya, menurutnya, proses pewarnaan kain batik ciprat tidak dilakukan dengan cara melukis dengan pola-pola tertentu. Namun cukup dengan cara memercikkan berbagai bahan pewarna ke atas kain.

“Kalau pembuatan batik pada umumnya cukup rumit dan sulit. Apalagi penerima manfaat di sini memiliki keterbatasan sehingga hanya dapat diberikan pelajaran yang sederhana secara berulang-ulang. Ya salah satunya ini, batik ciprat,” ujarnya, Jumat (14/7).

Dengan motif yang cukup unik, batik ciprat nyatanya cukup diminati oleh pasar. Salah satunya saat mengikuti sebuah pameran di Jakarta beberapa waktu lalu. Karya penerima manfaat tersebut laku keras dengan banderol harga mulai Rp 110.000 sampai Rp 125.000 per lembar tergantung kualitas kain dan jumlah warna yang digunakan.

“Tak hanya itu saja, saat ini kain batik ciprat tersebut juga dijadikan bahan utama untuk seragam yang dikenakan oleh seluruh karyawan BBRSBG Kartini Temanggung,” imbuhnya.

Lebih jauh, Murhardjani menambahkan, selain pembuatan batik ciprat, beragam keterampilan juga diajarkan oleh para pembimbing. Seperti ilmu tata boga dengan membuat kue maupun lauk pauk, keterampilan menjahit untuk memproduksi bed cover, cara pembuatan keset, batako, gerabah, ilmu pertukangan kayu, hingga cara budidaya jamur.

Semua itu ditempuh semata-mata untuk memberikan bekal para penyandang disabilitas agar tetap mandiri atau menghasilkan uang sendiri di kemudian hari apabila telah kembali ke lingkungan keluarga maupun sosial.

“Kami berharap mereka dapat menjadi pribadi mandiri yang tidak menggantungkan orang lain dengan berbagai bekal keterampilan yang kami berikan. Meski demikian, bimbingan orang tua dan lingkungan sekitar juga tak kalah penting,” pungkasnya. 

 

 

 

Sumber : www.jateng.merdeka.com