OUTLOOK 2019: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi: Wilayah Timur Masih Jadi PR

by Admin 26 views

Kota Semarang sebagai ibukota Provinsi Jawa Tengah kian menunjukkan tampilannya sebagai kota berwibawa: tiap sudut kota dipercantik serta sarana-prasarana perkotaan terus dipenuhi demi kenyamanan.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi ingin memosisikan kota ini sebagai magnet wisata baru dengan tatanan yang lebih modern. Apa saja yang akan dikejar dan diwujudkan pada 2019 nanti, berikut wawancara dengan wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin.

Apa obsesi Anda di tahun 2019?
Pada tahun 2016 dalam peringkat Indeks Pariwisata Indonesia oleh Kementerian Pariwisata, Kota Semarang yang sebelumnya tidak pernah diperhitungkan sebagai kota wisata berhasil ada dalam 5 besar. Kemudian dalam ajang Yokatta Wonderful Indonesia Tourism Awards yang didukung oleh Kementerian Pariwisata juga, Kota Semarang naik di peringkat 4 sebagai kota wisata terbaik di Indonesia tahun 2017.

Dan saat ini dalam data yang dikumpulkan Google sejak tahun 2017, Kota Semarang ada di peringkat ke-7 sebagai daerah di Indonesia yang paling banyak dicari informasinya oleh wisatawan.

Melihat tren ini maka fokus Pemerintah Kota Semarang di 2019 adalah masih sama yaitu pada sektor perdagangan dan jasa, khususnya pariwisata. Dan kalau ditanya obsesinya apa, saya rasa salah satunya adalah penguatan posisi Kota Semarang sebagai kota wisata di Indonesia, dengan meningkatkan indeks pariwisata Kota Semarang. Dalam rangka mengejar target tersebut, banyak hal yang kami upayakan, mulai dari peningkatan infrastruktur hingga pemberdayaan masyarakat yang lebih masif.

Beberapa catatan penting juga di 2019 setidaknya pada Maret berbagai proyek besar di Kota Semarang sudah selesai dikerjakan, antara lain normalisasi Banjir Kanal Timur, sistem drainase Genuk, dan revitalisasi Kawasan Kota Lama. Melihat hal ini maka saya optimis akan banyak pencapaian lagi yang dapat diraih Kota Semarang pada tahun 2019.

Bagaimana konsep smart city 2018, sudahkah sesuai harapan?

Kalau kita bicara tahap per tahap, konsep Semarang Smart City pada dasarnya kami upayakan terlebih dahulu untuk bisa secara maksimal diterapkan pada tataran birokrasi di Pemerintah Kota Semarang, untuk dapat memberikan pelayanan publik kepada masyarakat lebih maksimal.

Sehingga kemudian konsep Smart City ini kami dorong sebagai sarana melakukan reformasi birokrasi yang lebih SMART, yaitu lebih "Systemic" atau terhubung sistem, "Monitorable" atau mudah termonitor, "Accesible" atau mudah terakses, "Reliable" atau terpercaya, serta "Time Bound" atau terikat oleh waktu yang jelas.

Terkait upaya Pemerintah Kota Semarang ini, kami berhasil meraih predikat pelayanan publik terbaik dari Kemenpan RB selama tiga tahun berturut-turut, pada tahun 2016, 2017, dan 2018. Saya rasa apresiasi dari Kemenpan RB tersebut menjadi tolok ukur penting untuk menilai apakah konsep Smart City telah berjalan on the right track atau tidak.

Namun saya tidak memungkiri bila bicara konsep Smart City secara lebih luas, masih banyak kekurangan Pemerintah Kota Semarang yang harus terus dikejar. Apalagi jika kembali bicara dalam ruang lingkup penguatan Kota Semarang sebagai kota wisata, masih banyak representasi kota pintar yang harus kami kejar. Misalnya dengan menempatkan KiosK di banyak ruang publik guna mendukung keperluan wisatawan, mulai dari untuk memandu wisatawan, hingga mempermudah wisatawan untuk melakukan transaksi berbagai keperluan, seperti transportasi. Hal tersebut terus kami upayakan, dan telah ada dalam rencana pengembangan konsep Semarang Smart City.

Wajah Kota Semarang saat ini telah berubah indah, namun problemnya masih tetap sama, yakni banjir. Bahkan, banjir dinilai telah tambah parah di perkotaan. Apa yang akan Anda lakukan di 2019 untuk mengatasi banjir?

Saya rasa penting untuk diketahui bahwa persentase wilayah rawan banjir di Kota Semarang setiap tahunnya mengalami penurunan yang signifikan. Pada tahun 2010 tercatat hampir separuh wilayah Kota Semarang adalah merupakan wilayah rawan banjir, yaitu dengan persentase sekitar 41,02%.

Pada tahun 2017 angka tersebut kemudian berkurang menjadi 21,4%, salah satu contohnya adalah di Kawasan Kota Lama Semarang yang dulu sering tergenang banjir, kini sudah bisa teratasi, dan menjadi magnet bagi wisatawan yang datang ke Kota Semarang.

Pekerjaan rumah terbesar saat ini adalah di wilayah timur, yang kami upayakan melalui pembangunan sistem drainase genuk, yang dalam penggarapannya dilakukan normalisasi sejumlah sungai seperti Tenggang, Sringin, dan Babon. Selain itu juga proyek normalisasi Banjir Kanal Timur juga kami upayakan untuk dapat segera selesai. Melalui berbagai upaya ini, target kami wilayah rawan banjir di Kota Semarang dapat berkurang lagi menjadi sekitar 10-12%.

Sedangkan untuk daerah di tengah kota, seperti yang dilihat kami lakukan peningkatan drainase di sejumlah ruas jalan dengan memasang saluran gendong. Dan pada saat ini semangat kami adalah mewujudkan konsep 'Water Front City' di area perkotaan Kota Semarang, untuk meningkatkan kepedulian masyarakat untuk menjaga sungai-sungai yang melintas di Kota Semarang.

Mungkinkah banjir teratasi di tahun 2019 sesuai target Anda?

Kalau melihat dari target penyelesaian sistem Genuk dan normalisasi Banjirkanal Timur yang bisa dikejar pada Maret 2019, saya rasa target penanganan banjir di wilayah timur Kota Semarang dapat tercapai.

Banjir di perkotaan diduga akibat pembangunan jalan maupun pedestrian yang kurang memperhatikan pembuatan selokan. Selokan yang ada bukannya tambah lebah justru malah menyempit, apa sebenarnya yang terjadi?

Sebagai sebuah kota yang berkembang dengan pertumbuhan ekonomi yang terjaga, tidak dapat dipungkiri bahwa peningkatan aktivitas masyarakat di Kota Semarang menjadi salah satu faktor penyebab penurunan kualitas drainase di perkotaan. Mulai dari drainase yang dulu lancar dan sekarang tersumbat karena peningkatan produksi sampah, hingga drainase yang tertutup oleh material karena dirasa tidak penting oleh masyarakat.

Dan bila dikatakan bahwa pembangunan jalan dan jalur pedestrian menjadi salah satu penyebabnya, saya rasa penting untuk diketahui bahwa Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang memiliki dua bidang sebagai tanggung jawab, yaitu Bina Marga dan SDA. Maka boleh dicek bahwa dalam paket-paket pekerjaan yang dilaksanakan, baik itu jalan maupun jalur pedestrian, di dalamnya terdapat pengerjaan drainase.

Bagaimana pelibatan akademisi, tokoh masyarakat, maupun pakar, dalam pembangunan kota semarang ke depan?

Kota Semarang ini memiliki DP2K, yaitu Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota yang unsur didalamnya terdapat akademisi, tokoh masyarakat, pakar, bahkah praktisi. Dalam kebijakan pembangunan Kota Semarang, DP2K secara aktif memberi masukan dan pertimbangan kepada Pemerintah Kota Semarang untuk dapat membuat kebijakan pembangunan kota yang diyakini tepat.

Lalu, bagaimana dengan kelanjutan moda transportasi sebagai bagian dari konsep smart city untuk mengurai persoalan kemacetan di semarang?

Peningkatan pelayanan dan penambahan koridor BRT Trans Semarang terus diupayakan, yang catatan pentingnya di tahun depan adalah untuk mengusahakan terwujudnya angkutan feeder atau pengumpang yang terintergrasi. Selain itu pembangunan monorel masih ada dalam rencana yang diupayakan untuk dapat terwujud di Kota Semarang,

Bagaimana menyadarkan masyarakat untuk memakai moda transportasi massal?
Saya rasa hal paling mendasar yang harus kami upayakan adalah meningkatkan kualitas moda transportasi massal yang kami miliki saat ini, yaitu BRT Trans Semarang, atau ke depannya seperti monorel untuk dapat bisa lebih memberikan kenyamanan bagi masyarakat.

Saya meyakini ketika kami mampu memenuhi ekspektasi masyarakat akan adanya moda transportasi massal yang nyaman, aman, dan murah di Kota Semarang, maka masyarakat secara organik akan tumbuh kesadarannya untuk menggunakan moda transportasi massal yang kami sediakan.

Saya optimistis hal tersebut dapat kami upayakan, didasari tren peningkatakan pengguna BRT Trans Semarang yang terus tumbuh. Dan saya rasa pengharagaan yang didapatkan Kota Semarang pada tahun 2018 ini pada Indonesia Road Safety Award (IRSA) sebagai Kota Terbaik dalam Upaya Meningkatkan Jumlah Pengguna Angkutan Umum menjadi capaian yang positif.

Mungkinkah transportasi massal terintegrasi dengan kampung wisata, sehingga wisatawan tak perlu repot harus berganti-ganti alat transportasi untuk menuju ke tempat wisata yang ada di Kota Semarang?

Seperti yang saya katakan tadi, bahwa salah satu yang sedang kami upayakan adalah adanya angkutan feeder atau pengumpan yang terintegrasi dengan BRT Trans Semarang. Bukan hanya kampung-kampung wisata, target kami permukiman-permukiman di Kota Semarang dapat terintegrasi dengan angkutan massal, melalui penyediaan angkutan feeder.

Satu lagi, Pemkot tengah membangun “Kampung Bahari”, apa sebenarnya target Anda terhadap proyek ini?

Salah satu targetnya adalah penanganan wilayah kumuh di Kota Semarang yang saat ini sebaran wilayahnya didominasi di wilayah pesisir. Namun terlebih dari itu, kami mencoba mewujudkan adanya added value dalam upaya tersebut, yang bukan hanya sekadar sebatas penataan wilayah, tetapi juga mendorong wilayah tersebut menjadi kawasan wisata.

Saya meyakini dengan terwujudnya kampung bahari sebagai daya tarik wisata baru di Kota Semarang, maka ekonomi di wilayah tersebut dapat tumbuh. Dan ketika ekonomi di wilayah tersebut tumbuh, akan muncul kesadaran masyarakat untuk menjaga wilayahnya karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

 

Dikutip dari : Tribunjateng.com