Hendi Bicara Pariwisata, Prie GS Ingin Ada Panggung Budaya Di Kota Semarang

by Admin 83 views

SEMARANG - Empat hari menjelang pergantian tahun 2018, Radio Idola bersama Hotel Patra Semarang mengadakan talkshow yang bertajuk Refleksi 2018: Semarang Hebat, Kamis (27/12) petang.

Hadir dalam talkshow tersebut yakni Walikota Semarang, Hendrar Prihadi dan Budayawan, Prie GS.

Talkshow ini membahas persoalan Kota Semarang selama satu tahun terakhir.

Hendi, sapaan Walikota Semarang menjelaskan dari aspek pariwisata, pendidikan, kesehatan, sosial, dan lingkungan.

"Pertumbuhan hotel, destinasi-destinasi kuliner, dan tempat wisata lain di Kota ini sudah membuktikan jika Semarang tidak hanya kota transit saja. Ini juga menjadi fokus kami karena kota ini kaya akan potensi wisatanya," jelasnya.

Pariwisata yang paling ditonjolkan yakni Kota Lama Semarang.

Walaupun saat ini masih dalam kondisi renovasi besar-besaran, Hendi ingin setelah bulan Maret 2019 penampilan Kota Lama jauh lebih baik dari tahun sebelumnya.

Apalagi ia juga mendorong para pemilik gedung yang ada di sana untuk segera direstorasi.

"Tidak bisa dipungkiri 99% gedung yang ada di Kota Lama adalah milik pribadi. Sehingga Pemkot hanya bisa mendorong para pemilik untuk mau merestorasi atau menjualnya kepada investor supaya dimanfaatkan," imbuhnya.

Dari sisi pendidikan, Hendi juga tak ingin sarana prasarana sekolah di wilayahnya terbengkalai, terutama kesejahteraan guru.

Maka dari itu, saat ini guru non PNS di Kota Semarang mendapatkan gaji sesuai UMR.

"Kalau guru tidak sejahtera, tentu ia akan mencari sambilan lain. Akhirnya berdampak pada proses belajar mengajar di sekolah. Hal-hal semacam ini yang akan selalu kami cegah," papar Hendi.

Saat ada tamu undangan bertanya kepada Hendi soal solusi menanangani gelandangan, ia menjawab sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial.

Bila ada pengemis atau gelandangan yang nekat, akan dibawa ke Solo untuk sekolah ketrampilan.

"Dinsos dan Satpol PP rutin melakukan survei. Jika sekiranya ada yang bandel, maka akan kami bawa ke Solo untuk ikut sekolah ketrampilan," tegasnya.

Namun fakta di lapangan, Hendi menemukan ada orangtua yang sengaja mempekerjakan anaknya untuk menjadi pengemis.

"Ini ada cerita warga yang tinggal di Gunung Brintik. Anaknya disuruh untuk menjadi pengemis, sedangkan orangtuanya hanya pengangguran. Lalu saya beri anak tersebut beasiswa sekolah sampai perlengkapan sekolah saya cukupi. Eh, malah orangtuanya minta saya harus bayar Rp 100 ribu tiap hari. Ternyata anak ini menjadi tulang punggung mereka," jelasnya.

Hendi ingin, untuk menjadi kota yang maju tentu butuh kontribusi semua pihak.

Tak hanya dari berbagai instansi saja. Melainkan masyarakat juga turut terlibat dalam memperbaiki kekurangan yang ada di Kota Semarang.

"Ini yang terus masih kami cari untuk menemukan solusi supaya masyarakat merasa ikut memiliki kota ini. Jika sudah seperti itu, tentu semua akan dijaga secara bersama-sama," tegasnya.

Sementara itu, Prie GS ingin masyarakat Kota Semarang jangan hanya membicarakan sisi negatif Kota Semarang. Tetapi juga harus turut bekerjasama memperbaiki kekurangan itu.

"Banyak masyarakat yang koar-koar keluar kalau Semarang banjir. Padahal bisa saja banjir itu karena ulahnya sendiri yang tidak tertib buang sampah, atau salah menggunakan tanah resapan untuk dibuat pabrik," tuturnya.

Sejak lima tahun lalu, Prie GS mengaku tidak pernah lagi memaki Kota Semarang. Karena sikap seperti itu justru tidak semakin memperbaiki, melainkan memperburuk citra kota ini.

Hal yang paling ia inginkan sebagai budayawan, ada sebuah wadah untuk seniman memperlihatkan aktualisasi dirinya.

"Ini yang masih belum ada di kota ini. Semarang itu banyak seniman-seniman berbakat. Tapi percuma jika di kota sendiri mereka tidak diberi panggung. Kota ini butuh suatu tempat yang rutin menampilkan kesenian lokal, supaya bisa memacu kunjungan pariwisata," pungkasnya.


Sumber : Tribunjateng.com