Menikmati Kopi Alt Sembari Melihat Sunset Di Kanthil View Semarang

by Admin 11 views

SEMARANG - Setiap sudut Kabupaten Semarang memiliki pesona alam yang mengagumkan.

Daerah yang memiliki luas 98.200 hektare lengkap mempunyai danau hingga wilayah pegunungan maupun perbukitan, hingga kekayaan hasil bumi.

Hal ini yang bisa dinikmati di Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Khususnya di Desa Kebonagung.

Desa ini memiliki kekayaan alam serta hasil bumi yang melimpah. "Desa kami memiliki sejumlah hasil bumi, seperti ketela, teh, kopi, kacang hingga salak," ujar Kepala Desa Kebonagung, Anak Anung Sambara.

Untuk komoditas yang disebutkannya paling akhir, Anung mengatakan salak di desanya merupakan salak nomor satu di Jawa Tengah.

"Salak desa kami namanya salak sumuh sudah tujuh tahun juara berturut-turut di kontes se-Jawa Tengah. Bahkan tahun ini kami disuruh absen dahulu supaya memberikan kesempatan ke daerah lain," ujarnya sembari tersenyum.

Tidak hanya salak, di Desa Kebonagung juga memiliki kopi yang khas jenis robusta. Sejarah tentang kopi di desa ini juga cukup unik dan panjang sejak zaman kolonial Belanda.

Di awal tahun 1900-an tepatnya tahun 1920, ada keluarga Belanda yang datang ke Dusun Gambang Waluh. Mereka mendirikan tempat tinggal serta pabrik kopi.

"Jadi rumah sama pabrik kopi bersebelahan. Ada 1.000 hektare lahan kopi yang dikelola. Saya lupa nama keluarganya. Kini lahannya sudah dikelola warga," ujar pendamping desa wisata Kebonagung di Dusun Gambang Waluh, Abi Supratman.

Sebelum keluarga tersebut datang, Abi menceritakan ada rohaniawan asal Belanda bernama Suster Moest Alt yang datang terlebih dahulu.

Selain membawa misi rohani, Moest Alt membawa misi sosial dengan mendirikan panti asuhan.

"Dulu ceritanya Suster Moest Alt datang ke daerah yang jauh dari Semarang karena untuk terapi penyakit malaria yang dideritanya. Meski sedang sakit, dia aktif kegiatan sosial untuk membantu warga sekitar bahkan meski harus memakai tandu, saat sudah tidak bisa berjalan," sambung Abi.

Hal tersebut yang menginspirasi warga setempat menciptakan kopi Alt. "Selain berasal dari nama Suster Moest Alt, kami juga menciptakan kepanjangan dari Alt yakni asli lezat tenan," ujarnya.

Abi juga menuturkan ada cara yang nikmat untuk menikmati kopi Alt. Cara tersebut yakni menyeruput kopi sembari melihat sunset di Bukit Kanthil, Dusun Gambang Wuluh, Desa Kebonagung.

Bukit Kanthil ini dalam proses pembenahan supaya para pengunjung nyaman dan betah berlama-lama di atas bukit.

"Kami juga mengalokasikan sebagian anggaran dana desa untuk Kanthil View. Tahun ini kami benahi bagian atas sehingga para pengunjung yang datang bisa ambil gambar dengan spot-spot menarik. Harapannya tentu dapat disebarluaskan melalui media sosial maupun dari mulut ke mulut," lanjut Kepala Desa Kebonagung, Anak Anung Sambara.

Anung menambahkan untuk dana desa mendatang, pihaknya juga masih mengalokasikan anggaran untuk memperbaiki akses menuju bukit.

Hal ini lantaran dari bawah bukit menuju ke Kanthil View, pengunjung harus berjalan kaki menempuh jarak 300 meter.

"(Daerah) Sumowono kan sudah (di dataran) tinggi, jadi ditambah naik lagi ke bukit para pengunjung akan merasa kesejukan udara di Kanthil View. Maka akan terasa nikmat jika sembari menikmati hasil alam dari Desa Kebonagung seperti salak Sumuh dan kopiAlt.

"Selain hanya sekadar berkunjung, Kanthil View juga bisa digunakan untuk camp atau kamping. Jadi cocok untuk wisata keluarga maupun dengan rekan-rekan. Selain itu, juga bisa melihat batas ujung barat Kabupaten Semarang karena sebelah Kanthil View berbatasan langsung dengan Kabupaten Temanggung," tandas Anung yang juga menyebut untuk tiket masuk ke Kanthil View hanya Rp 5.000. (*)


 


Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul Menikmati Kopi Alt Sembari Melihat Sunset di Kanthil View Semarang, http://jateng.tribunnews.com/2018/11/07/menikmati-kopi-alt-sembari-melihat-sunset-di-kanthil-view-semarang.
Penulis: suharno
Editor: galih permadi