Geliat Masyarakat Keteleng Batang Mengembangkan Desa Wisata Pagilaran

by Admin 40 views

BATANG - Hamparan perkebunan teh yang luas melenakan siapa pun yang datang untuk betah berlama-lama melihatnya.

Kebun teh ini terletak di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Udaranya terasa sejuk, melegakan dada dan menyegarkan paru-paru.

Kawasan hijau ini berada di Dusun Pagilaran, Desa Keteleng, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Perkebunan seluas 1.300 hektare tersebut adalah destinasi wisata unggulan yang dimiliki Kabupaten Batang.

Dikenal dengan sebutan Agrowisata Kebun Teh Pagilaran.

Meski sebagian besar perkebunan dikelola pabrik teh PT Pagilaran, masyarakat sekitar berperan penting dalam pengembangan wisata.

Salah satunya melalui pembentukan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang menggerakkan warga sekitar dalam menggali potensi pariwisata.

Bukan hanya memanfaatkan panorama alam yang indah.

Seni budaya, kuliner, kerajinan tangan, dan tanaman hias mulai menjadi andalan masyarakat desa sebagai lahan pencaharian tambahan.

Kepala Desa Keteleng, Wahyudi, menilai kesadaran masyarakat terhadap potensi daerahnya berimbas pada peningkatan pendapatan.

Memang tidak serta merta karena berlangsung bertahap tapi jelas terlihat terus berkembang.

"Saya menganggap banyak potensi yang bisa digali. Tentu masyarakat harus cerdas dan terus berinovasi dan berkreatif dengan memanfaatkan potensi yang ada. Alhamdulillah secara bertahap semakin meningkat. Tak hanya sektor wisata melainkan juga kuliner dan ekonomi kreatif yang diberdayakan masyarakat kami, " tuturnya kepada Tribunjateng.com, Rabu (10/10/2018).

Menurutnya, warga desa memang tak bisa mengelola secara langsung karena terhalang status lokasi hak guna usaha (HGU).

Namun, mereka sudah tanggap terhadap potensi lingkungannya.

Kemudian mampu memanfaatkan untuk usaha pariwisata.

"Masyarakat Desa Keteleng sudah tanggap terhadap potensi daerah. Meski terhalang karena lokasi HGU, semangat dan antusiasme mereka tetap tinggi. Warga misalnya mengembangkan sektor kuliner, hiburan seni budaya, wahana permainan, dan olahraga panahan yang sekarang ramai," jelasnya.

Desa Wisata Pagilaran di Desa Keteleng, Kecamatan Blado,  Kabupaten Batang, Jawa Tengah

Desa Wisata Pagilaran di Desa Keteleng, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, Jawa Tengah (TRIBUN JATENG/DINA INDRIANI)

Dia menyebut peran Pokdarwis dalam mengangkat desa wisata tak hanya melakukan promosi wisata.

Mereka juga mengangkat dan mengembangkan seni budaya.

Satu di antaranya adalah kesenian lengger.

Prestasinya tak main-main karena pernah menjuarai tingkat kabupaten dan provinsi.

"Dengan menyuguhkan tempat wisata dan seni budaya, desa wisata akan lebih menarik pengunjung," ujarnya.

Berbagai kerajinan memanfaatkan regenerasi teh juga dikembangkan.

Ada miniatur rumah dari akar teh dan berbagai suvenir.

Bahkan di Keteleng juga terdapat kerajinan panahan tradisional yang sudah menembus pasar luar negeri.

"Semakin ke sini tingkat kreativitas masyarakat semakin tinggi. Bermunculan ide-ide baru. Kalau pengrajin panahan tradisional memanfaatkan limbah bambu," papar Wahyudi.

Di desa ini ada pula penggerak sektor agraria dari Kelompok Wanita Tani (KWT).

Sebagian besar anggotanya ibu-ibu rumah tangga.

Kelompok yang diketuai istri Wahyudi, Sunarni, ini sukses memberdayakan lahan bantuan yang kini disulap menjadi greenhouse bunga krisan seluas 10 x 20 meter.

Saat musim mekar, greenhouse tersebut menjadi destinasi wisata baru yang ramai.

"Alhamdulillah kami dari KWT Sri Tani Lestari yang memiliki anggota 30 orang bisa bekerja sama. Semula kami belajar bersama dengan studi banding ke Bandung mengenai bunga krisan," jelas Sunarni.

Hasil studi banding itu kemudian diaplikasikan di lahan bantuan.

Sunarni dkk tak menyangka greenhouse krisan ini bisa menjadi destinasi wisata baru.

Pengunjung menjadikan taman krisan ini sebagai tempat swafoto.

"Khusus dari pemasukan tiket yang hanya kami patok Rp 3 ribu, bisa menghasilkan puluhan juta per musim mekar," tuturnya.

Wahyudi menambahkan, terdapat 50-an warga yang menjadi pedagang di sekitar Agrowisata Pagilaran.

Mereka berjualan oleh-oleh khas, suvenir, kuliner, dan tanaman hias.

Perputaran uang pun semakin meningkat, saat ini bisa mencapai ratusan juta per minggu.

Keberhasilan ini tak lepas dari ikhtiar Pemerintah Kabupaten Batang menggenjot potensi wisata daerahnya.

Usaha ini tak lain bertujuan menyukseskan program Bupati Batang Wihaji yaitu Visit Batang 2022 dengan tagline "Heaven of Asia".

Bahkan Wihaji sudah meminta semua kecamatan membuka potensi wisata baru untuk bisa menjadi desa wisata.

"Kabupaten Batang mempunyai potensi wisata yang luar biasa. Hanya saja masyarakat kurang menyadarinya. Saya pun terus menggenjot mereka agar sadar wisata di daerahnya. Dan benar saja, kini tercatat di semua kecamatan terdapat potensi wisata," tandas Wihaji

Menurutnya, kemajuan sektor pariwisata otomatis berdampak pada perekonomian masyarakat.

Desa wisata yang dicanangkan adalah desa yang benar-benar berpotensi besar dan masyarakatnya memiliki semangat mengelola dengan tingkat kesadaran yang tinggi.

"Salah satu desa wisata yang sudah dicanangkan adalah Desa Keteleng yang sudah lengkap. Ada wisata alam, kerajinan, kuliner, suvenir, dan seni budaya. Semua itu berkat kesadaran masyarakatnya yang tinggi," imbuhnya.

Desa Wisata Pagilaran di Desa Keteleng, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, Jawa Tengah

Desa Wisata Pagilaran di Desa Keteleng, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, Jawa Tengah (TRIBUN JATENG/DINA INDRIANI)

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Batang, Wahyu Budi Santoso, menyebut instansinya terus membina masyarakat langsung dan tidak langsung.

"Di Keteleng yang menjadi desa wisata unggulan, misalnya, masyarakat dilibatkan langsung dalam setiap event yang digelar pemerintah di Pagilaran. Kami minta seni budaya ditampilkan sehingga menjadi pelengkap wisata sehingga bisa membangkitkan gairah masyarakat juga," jelas Wahyu.

Pemkab Batang juga bekerja sama dengan PT Pagilaran dalam memberdayakan masyarakat sekitar agar potensi mereka terus berkembang, tidak terkendala oleh status lokasi HGU.

Wahyu menyatakan konsep wisata di Pagilaran sekarang lebih mengedepankan pemberdayaan masyarakat.

Terlebih warga Desa Keteleng antusias dan bersemangat baik.

"Masyarakat terus menggali potensi lain. Yang terbaru pengelolaan teh hijau dan teh hitam lokal dengan meramunya secara tradisional. Itu cukup laris," jelasnya.

Dia menegaskan Disparpora akan terus membina dan melaksanakan pendampingan desa wisata unggulan.

Tujuannya agar masyarakat terus menggali potensi dengan berinovasi dan berkreasi.

Hasil yang diharapkan adalah perekonomian meningkat dan kesejahteraan tercapai. (*)

 


Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul Geliat Masyarakat Keteleng Batang Mengembangkan Desa Wisata Pagilaran, http://jateng.tribunnews.com/2018/10/10/geliat-masyarakat-keteleng-batang-mengembangkan-desa-wisata-pagilaran.
Penulis: dina indriani
Editor: abduh imanulhaq