Pasar Papringan Dongkrak Perekonomian Masyarakat

by Admin 42 views

JIKA  Anda jenuh dengan rutinitas sehari-hari, penat dengan aktivitas kerja, atau bosan dengan hiruk pikuk kehidupan kota, dinginkan hati dan otak, rilekskan tubuh dengan bertamasya ke desa. Ungkapan kanak-kanak berlibur ke rumah nenek, yang identik pergi ke desa tentu memiliki sejuta makna pada masa sekarang ketika orang berpikir desa bukanlah udik atau ndesa.

Pasar Papringan yang digelar setiap Minggu Pon dan Minggu Wage di Temanggung terkonsep tradisional ala zaman nenek moyang, lengkap dengan kuliner, dan dolanan kanak-kanak. Pengunjung bakal merasa serupa naik mesin waktu menjelajahke masa lampau.  Ya, suasana asri pedesaan tetapi tidak udik akan Anda peroleh saat berkunjung ke Pasar Papringan di Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung.

Dari Kota Temanggung, pasar itu berjarak tak sampai 10 kilometer. Dari Perempatan Pasar Kedu belok ke kanan dan terus mengikuti jalan aspal.  Di sini hawa sejuk sudah terasa,terlebih ketika cuaca cerah, dua gunung kembar Sumbing-Sindoro terlihat begitu memesona.

Tak perlu khawatir sebab untuk menuju pasar yang buka mulai pukul 06.00-12.00 itu berpetunjuk arah berupa tampah berlukisan yang terpasang di pinggir jalan. Selain itu, ratusan mobil dan sepeda motor pasti menjejali jalanan sejak sebelum pukul 06.00. Jadi jika tak ingin terlambat, berangkatlah lebih awal.

Keberadaan Pasar Papringan  sudah mengakar di hati masyarakat. Sebab, setelah penutupan Pasar Papringan di Dusun Kelingan, Desa Caruban, Kecamatan Kandangan, masyarakat seperti kehilangan tempat rekreasi kuliner dan budaya ala pedesaan yang menarik. Nah, kini penantian masyarakat terobati, setelah Komunitas Mata Air membuka kembali Pasar Papringan di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu. Di sana pengunjung bisa menikmati rekreasi berbelanja.

Namun alat tukar yang dipakai bukan uang, melainkan bambu. Konsumen bisa menukarkan uang Rp 2.000 yang senilai dengan satu pring (sebilah bambu persegi panjang kecil sebagai pengganti uang).

Hidupkan Potensi Desa

Gaung Pasar Papringan, yang merupakan pasar berkonsep tradisional unik pertama dan banyak ditiru di kabupaten lain di Indonesia ini, sampai pula ke telinga Gubernur Ganjar Pranowo. Orang nomor satu di pemerintahan Jawa Tengah itu pun mengapresiasi keberadaan Pasar Papringan. Pasalnya, pasar dengan latar tradisional itu bisa mengangkat potensi desa.

"Kegiatan ini merupakan bagian dari kreasi untuk bisa menghidupkan apa yang menjadi potensi desa. Papringan secara kultur pasti daerahnya banyak ditumbuhi pring atau bambu. Ternyata benar, unik. Termasuk mata uang yang digunakan dalam transaksi menggunakan koin pring,"ujarnya.

Dia menuturkan jika hal kreatif terus dilakukan, selain akan mengangkat potensi daerah juga bisa mendongkrak perekonomian. Tak hanya kalangan pebisnis, tapi ibu-ibu dan pelajar pun bisa ikut berjualan. Dia kagum atas kreasi warga desa yang mampu mendatangkan orang. Bahkan orang-orang dari kota pun berdatangan ke Pasar Papringan.

Sajian kuliner hampir semua beraroma tradisional tinggalan nenek moyang, dari nasi jagung, mangut opor, jamu, aneka dawet, ketela rebus, kimpul kukus, pisang rebus, bubur ndesa, jenang, wedang ronde, kupat tahu khas Temanggung, gorengan, tiwul, gatot, cetil, soto ayam kampung, gablok, lontong mangut, soto lesah, gudeg, nasi kuning, nasi merah, nasi bakar. Ada pula makanan paling khas bernama nglemeng, campuran ubi dan gula merah yang dimasukan dalam batang bambu lalu dimasak dengan cara dibakar.

Dijual pula berbagai kreasi dolanan dan perkakas rumah tangga dari bambu, seperti mobil-mobilan, helikopter, gelas, poci, sepeda bambu, keranjang, kepil, topi bambu, sayur mayur serta hasil bumi. Ada pula tukang cukur rambut dan tukang pijat.

Tersedia pula arena permainan tradisional anak-anak berupa permainan egrang, bakiak, dan ayunan kayu, di mana hal ini sekaligus melestarikannya dari ancaman kepunahan. Juga ada perpustakaan mini, bagi yang suka membaca, artinya di sini selain berwisata juga ada unsur edukasi.

Banyak Spot Foto

Pengelola Pasar Papringan sadar betul bahwa tempat wisata sekarang memang harus layak untuk latar foto. Mereka menyediakan banyak spot untuk berswafoto, seperti spot yang diberi nama Kampung Foto. Di sini pengunjung bisa foto bersama pemaian Jaran Kepang Turangga Bakti Manunggal dengan latar belakang gedek (papan) bambu berikut ornamennya, sembari mendengarkan lantunan gending Jawa yang ditabuh para niyaga tak jauh dari lokasi foto.  

Dari swafoto inilah secara tak langsung keberadaan pasar dipromosikan secara gratis oleh pengunjung. Itu berdampak luar biasa berupa peningkatan jumlah pengunjung.  Pengunjung tidak hanya berasal dari Temanggung, tapi dari luar kota seperti Semarang, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Magelang, Balikpapan. Bahkan ada beberapa turis asing kepincut berkunjung ke pasar berpermukaan terlapisan batu itu.

Pengunjung asal Bangkok Thailand, Teerapoj Teerapos (27), mengaku takjub dengan konsep Pasar Papringan di lereng Gunung Sumbing-Sindoro ini. Selama ini termasuk di negaranya dia belum pernah melihat ada pasar berkonsep unik yang mengagumkan itu.

"Ini kunjungan kali pertama saya ke Indonesia. Pasar Papringan sangat menyenangkan dan menginspirasi Mungkin bisa saya terapkan di negara saya. Di Bangkok, semua vegetasi tanaman bambu dipotong dan dialihfungsikan untuk pertanian padi,"katanya.

Ketua Komunitas Mata Air, Imam Abdul Rofik (30) mengatakan, konsep membuat sebuah pasar di bawah rimbunnya vegetasi tanaman bambu ini sebenarnya terinspirasi oleh pasar papringan yang sebelumnya pernah digelar di Dusun Kelingan, Desa Caruban, Kecamatan Kandangan beberapa waktu lalu.

Pasar yang mulai buka 17 Mei 2017, itu berada di atas lahan rumpun bambu seluas 2.500 meter persegi. Pasar Papringan didirikan sebagai konservasi alam, terutama vegetasi tanaman bambu, sekaligus ditujukan untuk mengangkat kearifan masyarakat serta merangsang pertumbuhan ekonomi masyarakat desa.

Tak dinyana, Ngadiprono yang dulu merupakan dusun terpencil tanpa daya tarik kini menjadi desa wisata yang begitu mendunia. Dijadwalkan pula pada bulan November 2018 di  Ngadiprono akan dijadikan tempat konferensi internasional tentang revitalisasi desa yang diinisiasi spedagi, dihadiri perwakilan dari Jepang, Australia, India dan lain-lain.

Pola pikir warga Ngadiprono,  dengan 110 kepala keluarga dan jumlah jiwa 400 orang ini kini mulai berubah, setelah semuanya, mulai anak-anak, remaja,bapak-bapak dan ibu-ibu dilibatkan aktif dalam Pasar Papringan. Selain bertani dan berkebun sekarang mereka berjualan, mengelola parkir,  sehingga mendapatkan penghasilan tambahan.

Bahkan, tak hanya Ngadiprono warga tetangga dusun atau desa pun ketiban rejeki, sebab banyak pula yang menjadi tukang ojek dadakan dengan tarif Rp 5.000 dari dan menuju Pasar Papringan. Lalu didatangkan pula hasil bumi atau bahan kerajinan dari luar desa sehingga keberadaannya benar-benar mampu mengangkat perekonomian rakyat, serta semakin mempererat rasa guyub rukun antar warga dengan gotong-royongnya.

Namun, menjadi komersial bukan berarti terus dijadikan alasan untuk tidak peduli kesehatan dan kebersihan, sebab di pasar ini diterapkan makanan sehat tanpa bahan pengawet, zero sampah plastik, mencuci tanpa sabun dan diganti dengan bahan pembersih tradisional berupa lerak.  

"Dulu tempat ini hanya untuk membuang sampah. Nah, bermula dari rasa kepedulian, akhirnya kami sepakat untuk menyulapnya jadi pasar. Di dalam pasar ini, ada 80 lapak yang dijalankan warga Ngadiprono, dari olahan kuliner khas, hasil pertanian, hingga kerajinan produksi lokal. Di sini jelas konsepnya pemberdayaan masyarakat "katanya, Minggu (30/9).

Imam  mengatakan, pada awal operasi dengan jumlah pengunjung 1.500 orang omzet penjualan berkisar di angka Rp 35 juta dan dalam beberapa bulan berikutnya sudah meningkat menjadi Rp 70 sampai Rp 80 juta dalam sekali pasaran. Perolehan pundi-pundi rupiah itu hanya dari hasil jual beli saja belum termasuk pendapatan parkir dan lain-lain.  

Dari hasil berjualan di Pasar Papringan setiap orang disisihkan 10 persen untuk ditabung dan bisa diambil saat jelang Lebaran atau kenaikan kelas. Lalu ada arah menabung guna biaya pendidikan dan peningkatan akses kesehatan melalui BPJS Kesehatan. Suwanto (60), salahsatu  warga Dusun Ngadiprono yang ikut berjualan samier (makanan tradisional semacam kerupuk dari bahan singkong), menuturkan, rasa syukurnya. Keberadaan Pasar Papringan menjadi berkah bagi dirinya dan keluarga.

Pria sepuh yang sehari-hari menggantungkan hidup dengan mencari pasir di sungai ini berpenghasilan rata-rata Rp 50 ribu per hari. Namun, jika sungai banjir praktis dia menganggur dan tidak mendapatkan uang.  Maka adanya Pasar Papringan merupakan harapan baru baginya, di mana dia berjualan satu ikat samier seharga empat pring atau seniai Rp 8.000, dan saban pasaran dia bisa menjual setidaknya 75 ikat samier.

Singgih S Kartono, selaku pendamping penyelenggara menyebut dipilihnya konsep pasar bambu lantaran sejauh ini rumpun bambu di berbagai wilayah pedesaan sangat rentan  tergusur. Sebab dianggap sebagai lokasi yang kotor, banyak sampah, dan dipenuhi nyamuk.

Padahal, sejatinya bambu memiliki nilai estetis tinggi sekaligus beragam manfaat. Mulai penghasil oksigen, menyuburkan tanah, bahan material bangunan pada masa datang. Tekstur bambu kuat, hingga mengandung keterikatan psikis yang kuat dengan masyarakat desa.

"Ini adalah harta karun. Kami ingin kebun bambu kembali dicintai masyarakat, menghidupkan nilai sosial, sekaligus memberikan nilai ekonomis tinggi. Apalagi bambu di Indonesia sangat istimewa karena tumbuh berumpun dan memberikan celah ruang untuk beraktivitas. Selain mengajarkan para pedagang menyajikan makanan berkualitas dari segi harga, rasa, dan visual, Pasar Papringan juga memberikan berkah bagi pemilik lahan dengan sistem retribusi," terangnya.

(Raditia Yoni Ariya/CN26/SM Network)

 

Sumber : www.suaramerdeka.com