Wisata Berbasis Kearifan Lokal, Hapus Stigma Desa Tertinggal

by Admin 12 views

PANDANGAN Wiranto (65) tidak bisa lepas dari sembilan gunungan hasil bumi yang berjajar di tengah Lapangan Sigeger, Desa Kasimpar, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, akhir September lalu.

Sembari menunggu doa selesai dipanjatkan, pandangannya menyapu seluruh lapangan. Ratusan warga memadati lapangan untuk menyaksikan dan berebut gunungan pada Kirab Budaya pembuka Festival Rogojembangan. Pandangannya terhenti di kursi tamu undangan. Lima wisatawan mancanegara tampak ikut menyaksikan Kirab Budaya di hari yang panas itu.

Wiranto mengatakan, Petungkriyono sudah banyak berubah dibandingkan lima tahun lalu. “Bedanya jauh. Dulu, Petung sering jadi bahan ledekan. Daerah terisolir, daerah tertinggal. Jangankan melihat turis asing. Wisatawan lokal datang ke sini saja jarang,” kata dia.

Namun dalam tiga tahun terakhir, Petungkriyono telah memperlihatkan geliat perubahan. Petungkriyono telah bermetamorfosis dari daerah terisolir dan tertinggal, menjadi daerah tujuan wisata yang dikunjungi wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Mencium peluang, sejumlah warga menyulap beberapa kamar di rumahnya menjadi homestay. Setidaknya ada dua sampai empat kamar per rumah yang disewakan untuk menginap tamu yang berkunjung ke Petungkriyono. Termasuk Wiranto.

Wiranto menyewakan empat kamar di rumahnya dengan tarif Rp 100.000 permalam. Setiap akhir pekan, penginapannya di Desa Yosorejo selalu penuh. Tamu yang pernah menginap di antaranya berasal dari Bandung, Yogyakarta dan Jakarta. Beberapa kali ia kedatangan tamu wisatawan dari Thailand, Hongkong dan Jepang.

“Setiap malam Jumat dan malam Minggu, penginapan saya selalu penuh. Hari ini, saya menolak 25 orang yang mau menginap karena kamar sudah penuh,” sambungnya. Hal ini seolah menjadi salah satu indikator berkembangnya wisata di Petungkriyono.

Johan George, salah satu wisatawan dari Belanda yang berkunjung ke Petungkriyono mengatakan, pemandangan di Petungkriyono sangat memesona. “Pemandangan di sini sangat bagus,” kata dia.

Tidak hanya keindahan alam Petungkriyono yang membuatnya terpesona. Budaya dan makanan khas Petungkriyono seperti nasi hitam juga membuatnya ketagihan sehingga ia ingin kembali lagi ke Petungkriyono suatu saat nanti.

Kecamatan Petungkriyono yang menjadi paru-parunya Jawa Tengah, menyimpan sejuta pesona dan keindahan alam. Selain keindahan alamnya, hutan di Petungkriyono yang luasnya mencapai 5.189,507 hektare dari total luas wilayah Petungkriyono 7.358,523 hektare, memiliki keragaman flora dan fauna.

Lebih kurang 250 spesies teridentifikasi berhabitat di sana, termasuk sejumlah satwa langka seperti Macan, Elang Jawa, Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dan Owa Jawa (Hylobates moloch).

Salah satu wisata alam di Petungkriyono, Hutan Sokokembang merupakan rumah terbesar kedua bagi Owa Jawa setelah Taman Nasional Gunung Halimun Salak di Jawa Barat. Di Hutan Sokokembang juga banyak ditemukan tanaman langka. Salah satunya Keruing (dipterocarpus), atau marga pepohonan penghasil kayu pertukangan.

Saat membuka Festival Rogojembangan hari itu, Bupati Pekalongan Asip Kholbihi mengatakan, di Petungkriyono terdapat 30 spesies bambu. “Dari hasil penelitian LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) ditemukan sekitar 60 jenis spesies kupu-kupu di hutan Petung,” terangnya.

Selain itu, masyarakat Petungkriyono memiliki kearifan lokal, di antaranya tradisi kendetan. Yakni tradisi masyarakat desa di Kecamatan Petungkriyono yang digelar setiap malam 1 suro untuk menolak bala.

Pada tahun 2016, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menetapkan hutan alam di wilayah Petungkriyono sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK). Yakni kawasan hutan yang ditetapkan untuk keperluan penelitian dan pengembangan, pendidikan dan pelatihan serta kepentingan religi dan budaya setempat. Hutan di Petungkriyono dinilai sebagai KHDTK yang lengkap untuk berbagai keperluan seperti penelitian, wisata maupun religi.

Merintis Desa Wisata

Semakin dikenalkan Petungkriyono di kalangan wisatawan nusantara dan mancanegara saat ini, merupakan buah dari ikhtiar masyarakat di sejumlah desa di Petungkriyono yang ingin memajukan desa melalui wisata. Kesadaran masyarakat untuk berubah, disokong potensi alam yang melimpah, mendorong masyarakat bergerak merintis desa wisata berbasis kearifan lokal.

“Dulu, saya selalu berfikir, mengapa Petung tidak maju-maju. Terisolir, tidak tersentuh pembangunan. Padahal potensi alam melimpah. Tapi mengapa tidak berkembang dan cederung tertinggal dibandingkan kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Pekalongan,” kenang Slamet Urip, warga Desa Tlogopakis, Minggu (7/10).

Untuk menghapus stigma itu, tahun 2014, masyarakat mulai bergerak memberdayakan dan mengembangkan potensi desa agar bisa keluar dari ketertinggalan. “Kami babat alas. Melobi ke desa-desa, Pemda dan Perhutani. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit masyarakat nyengkuyung. Hingga akhirnya terbentuklah Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Lumbung Lestari,” tambah Ketua Pokdarwis Lumbung Lestari, Abdullah.

Pokdarwis Lumbung Lestari Desa Tlogopakis terbentuk pada 1 Desember 2015 melalui Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor AHU-0030263.AH.01.07. Pokdarwis Lumbung Lestari mengelola Obyek Wisata Curug Bajing. Yakni air terjun setinggi 70 meter yang dihiasi aliran air bertingkat dengan batu besar yang membentuk perosotan air. Pokdarwis Lumbung Lestari juga mengelola Situs Gedong dan Lingga Yoni.

Selain warga Tlogopakis, warga di sejumlah desa lainnya juga membentuk Pokdarwis dengan tujuan yang sama, memajukan desa melalui wisata. Tercatat ada 15 Pokdarwis di Petungkriyono yang mengelola sejumlah obyek wisata di masing-masing desa. Seperti Curug Sibedug di Desa Kayupuring. Air terjun setinggi 20 meter yang memiliki dua aliran, bahkan bisa menjadi tiga aliran pada musim hujan.

Ada juga Curug Muncar, Wana Wisata Curug Lawe, Karang Sriti dan Kedung Sipingit. Juga wisata lainnya seperti rafting atau river tubing di Sungai Welo, serta wisata ke Gunung Kandalisodo dan Puncak Tugu untuk melihat matahari terbit. Mereka juga memoles sejumlah obyek wisata dengan membuat spot-spot yang instagramable untuk menarik wisatawan.

Rintisan desa wisata itu mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pekalongan. Melalui sejumlah dinas, Pemkab Pekalongan melakukan pembenahan. Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Pekalongan M Bambang Irianto menjelaskan, pada tahun 2017, Pemkab Pekalongan mengalokasikan anggaran untuk membangun infrastruktur pendukung di sejumlah obyek wisata yang dikelola masyarakat di Petungkriyono.

Di antaranya pembangunan jalan setapak, gazebo dan areal parkir di obyek wisata Curug Bajing. Selain itu juga pembangunan rumah panggung untuk penginapan di Curug Bajing. Pemkab Pekalongan juga memberikan sejumlah program pendampingan. “Kami memberikan pelatihan kepada Pokdarwis dan memfasilitasi sertifikasi pemandu wisata,” terangnya, Senin (8/10).

Tahun ini, Desa Tlogopakis, Kasimpar dan Desa Kayupuring akan ditetapkan sebagai desa wisata. Untuk mendukung desa wisata di sejumlah desa di Petungkriyono, tahun ini Pemkab Pekalongan mengalokasikan anggaran sebesar Rp 10 miliar untuk melanjutkan peningkatan kapasitas jalan di Petungkriyono, mulai dari Desa Kasimpar hingga perbatasan Kabupaten Banjarnegara (Kawasan Dieng).

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-PR) Kabupaten Pekalongan Wahyu Kuncoro mengatakan, untuk mendukung pengembangan wisata di Petungkriyono, DPU-PR telah melakukan peningkatan kapasitas jalan sejak tahun 2015. “Kalau untuk pembangunan jalan di Petung sudah sejak lama. Namun mulai intens dikerjakan dengan konsep peningkatan kapasitas jalan, dimulai dari tahun 2015,” terangnya, Rabu (10/10).

Keterpaduan masyarakat dan Pemkab Pekalongan itu berhasil mendongkrak kunjungan wisatawan ke Petungkriyono. Berdasarkan data Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Pekalongan, kunjungan wisatawan ke sejumlah obyek wisata di Petungkriyono terus meningkat. Pada tahun 2015, kunjungan wisatawan nusantara tercatat 55.925. Sementara wisatawan mancanegara dua orang.

Jumlah wisatawan nusantara yang berkunjung ke Petungkriyono mengalami peningkatan pada tahun 2016 sebanyak 69.429, dan wisatawan mancanegara meningkat menjadi 21 orang. Namun pada tahun 2017, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Petungkriyono turun menjadi 49.550 orang. Sedangkan wisatawan mancanegara empat orang. Adapun pada tahun 2018, sepanjang Januari hingga September, wisatawan yang berkunjung ke Petungkriyono meningkat signifikan sebanyak 75.000. Sedangkan wisatawan mancanegara tercatat lima orang.

Buka Lapangan Pekerjaan

Pengembangan desa wisata berbasis masyarakat di Petungkriyono mempunyai multiplier effect yang sangat luas sehingga mampu menjadi daya ungkit perekonomian. Masyarakat di sekitar obyek wisata menyewakan homestay, membuka kios cinderamata, jasa transportasi serta warung makan.

Rochati (56), warga Desa Kayupuring, sudah setahun membuka warung di Curug Sibedug, curug pertama yang dijumpai saat berkunjung ke Petungkriyono. Dalam sehari, ia bisa mengantongi pendapatan antara Rp 100.000 hingga Rp 500.000.

Sebelumnya, ia dan suaminya mengadalkan pendapatan dari hasil bertani menanam kapulaga. Dalam sekali panen setiap 1,5 bulan, menghasilkan 1,5 kuintal dengan harga jual Rp 10.000 perkilogram, atau Rp 7.000 perkilogram jika musim hujan.

Dari hasil membuka warung, kini ia bisa menguliahkan anaknya. “Hasil bertani tidak menentu. Alhamdulillah, hasil dari warung lumayan. Cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menguliahkan anak,” kata dia.

Senada disampaikan Sumiati, warga Desa Kasimpar. Sejak dua tahun terakhir, Sumiati berjualan makanan dan minuman di Curug Lawe. Sebelumnya, ia hanya bertani. Penghasilannya dari berjualan makanan dan minuman di Curug Lawe sangat membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

“Pendapatan suami tidak menentu. Kalau tidak dibantu jualan makanan, nggak bisa beli beras,” terangnya. Dari hasil berjualan di obyek wisata itu, sedikit demi sedikit ditabung. Sehingga suaminya tidak perlu menjual sapi apabila ingin memperbaiki rumah.

Hal ini menjadi contoh, pengembangan wisata dapat membantu percepatan pemberdayaan ekonomi di desa, menaikkan taraf hidup dan kesejahteraan warga. Selain itu, pengembangan desa wisata berbasis masyarakat juga berkontribusi dalam mengatasi masalah kemiskinan dan membuka lapangan pekerjaan.

Ketua Pokdarwis Lumbung Lestari Abdullah mengatakan, sebelum terbentuk Pokdarwis Lumbung Lestari, sebagian besar warga menganggur. Mereka hanya mencari rumput untuk pakan ternak atau mencari kayu bakar di hutan. Abdullah sendiri, awalnya juga tidak mempunyai pekerjaan tetap. “Kadang jadi kuli bangunan, kadang ngarit (mencari rumput),” kata dia.

Setelah dibukanya Curug Bajing, 50 warga yang tidak mempunyai pekerjaan tetap bergabung menjadi anggota Pokdarwis Lumbung Lestari. Mereka bertugas sebagai penjual tiket, petugas keamanan, tukang parkir, tenaga kebersihan, penjaga dan pemandu wisata (guide). Sehingga, Abdullah dan anggota Pokdarwis Lumbung Lestari mempunyai pendapatan setiap bulan sebagai penyangga kebutuhan hidup.

Abdullah menjelaskan, penghasilan yang diterima anggota Pokdarwis Lumbung Lestari tergantung dari pemasukan setiap bulan. “Dari penjualan tiket dan parkir, setelah dikurangi biaya konsumsi dan biaya operasional, 60 persen disetorkan ke Perhutani yang mengelola kawasan hutan di Petung. Sementara 40 persen untuk Pokdarwis,” paparnya.

Menurut Abdullah, rata-rata anggota Pokdarwis Lumbung Lestari menerima Rp 300.000 setiap bulan. Sebagai gambaran, pada tahun 2017, dari kunjungan wisatawan sebanyak 26.700 orang, pendapatan di Curug Bajing sebesar Rp 102,056 juta. Dari total pendapatan tersebut, Rp 40,822 juta dikelola Pokdarwis Lumbung Lestari.

Selain warga memperoleh penghasilan setiap bulan, pengelolaan Curug Bajing juga mendatangkan pemasukan untuk pembangunan desa. Karena dari penghasilan bersih 40 persen itu, kemudian dibagi-bagi ke pemerintah desa, karang taruna, pengembangan dan asuransi wisatawan serta upah atau gaji untuk anggota Pokdarwis.

Jika masing-masing Pokdarwis di Petungkriyono beranggotakan 50 orang, pengembangan desa wisata di Petungkriyono telah menyerap tenaga kerja sebanyak 750 orang. Hal ini berpengaruh terhadap penurunan angka pengangguran di Kabupaten Pekalongan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pekalongan, tahun 2014, tingkat pengangguran terbuka di Kabupaten Pekalongan tercatat 6,03 persen. Sedangkan pada tahun 2015, tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 5,10 persen. Angka ini menunjukkan adanya pengaruh pengembangan wisata berbasis masyarakat terhadap penurunan angka pengangguran.

Tumbuhkan UMKM

Pengembangan wisata berbasis kearifan lokal di desa-desa di Petungkriyono juga menumbuhkan usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang memberi tambahan penghasilan warga.

Abdullah mengatakan, setelah Petungkriyono dikenal masyarakat dari berbagai daerah, masyarakat mulai menggali potensi lokal untuk meningkatkan ekonomi. “Kesadaran masyarakat mulai muncul. Sebelumnya hanya berdiam diri mengandalkan hasil bertani. Kini masyarakat mengolah produk lokal untuk meningkatkan ekonomi,” jelasnya.

Itu pula yang dilakukan Abdullah. Bersama lima warga lainnya, ia memproduksi gula semut (gula merah bubuk) 1 kuintal perbulan dengan omzet Rp 1.500.000. Sehingga Abdullah tidak hanya mendapatkan penghasilan dari Pokdarwis, tetapi juga mendapat tambahan penghasilan dari produksi gula semut.

Warga lainnya, Purni (30), kini senang bisa membantu perekonomian keluarga. Dulu, Purni hanya di rumah, mengurus anak dan suami, tidak mempunyai penghasilan. Namun setelah adanya produksi kopi petung dan gula semut, ia ikut menjadi tenaga pemasaran.

Dari setiap penjualan kopi petung ataupun gula semut, baik langsung ataupun secara online, ia mendapat komisi Rp 500.000 untuk penjualan 50-60 bungkus. Sebulan, Purni bisa mendapat Rp 1 juta. “Kalau dulu hanya mengandalkan penghasilan dari bengkel suami, kini bisa tambah penghasilan untuk keluarga. Bisa untuk renovasi rumah dan tabungan sekolah anak kalau sudah besar nanti,” kata Purni.

Sementara warga lainnya mendapatkan tambahan penghasilan dari jasa transportasi setelah wisata Petungkriyono menggeliat. Sebelumnya, angkutan masyarakat di Petungkriyono, mobil doplak (pick up), hanya untuk mengangkut sayuran ke pasar. Kini, mobil pick up dijadikan sebagai angkutan pariwisata dengan nama Anggun Paris (Angkutan Pegunungan Pariwisata). Ada 30 armada Anggun Paris yang siap membawa wisatawan ke Petungkriyono.

Potret ini memperlihatkan, pengembangan desa wisata berbasis pemberdayaan masyarakat telah mengungkit ekonomi masyarakat dan membuatnya sebagai urat nadi perekonomian masyarakat setempat. Angka-angka tersebut menunjukkan sektor pariwisata berkontribusi penting dalam perekonomian desa.

Indikasi lain yakni berkurangnya jumlah keluarga miskin. Jika dilihat dari data BPS  Kabupaten Pekalongan, persentase penduduk miskin di Kabupaten Pekalongan pada tahun 2013 tercatat 13,51 persen. Pada tahun 2016, persentase penduduk miskin turun menjadi 12,90 persen. Tahun 2017 persentase penduduk miskin turun lagi menjadi 12,61 persen.

Bupati Pekalongan Asip Kholbihi mengatakan, desa wisata menjadi tonggak awal kemajuan desa. Karena sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang memberikan multiplier efek dalam peningkatan pendapatan masyarakat. Hal itu tercermin dari masyarakat di Petungkriyono.

Menurut dia, dulu Petungkriyono merupakan salah satu daerah tertinggal dan kantong kemiskinan. Pemkab Pekalongan melibatkan masyarakat sekitar hutan dalam pengembangan pariwisata dengan harapan masyarakat mendapatkan keuntungan dari pemanfaatan sumber daya hutan sebagai sumber ekonomi.

“Pengelolaan wisata melalui pemberdayaan masyarakat berhasil mendongkrak ekonomi masyarakat di Petungkriyono. Dulu, secara sosial, wilayah Petung terpencil, terisolasi dan terpinggirkan. Namun, daerah terpencil, yang terisolasi dan terpinggirkan itu kini telah diangkat. Ekonomi masyarakat meningkat. Bahkan, ada lonjakan harga tanah di sana,” paparnya. Selain itu, dalam sebulan perputaran uang di Petungkriyono mencapai Rp 2 miliar.

Berkaca dari keberhasilan itu, Pemkab Pekalongan tahun ini akan menetapkan sejumlah  desa sebagai desa wisata. Karena menurutnya, desa-desa di Kabupaten Pekalongan memiliki sumber daya alam yang luar biasa dengan berbagai potensinya, baik sumber daya alamnya maupun kearifan lokalnya.

“Potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata yang bisa mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat desa. Melalui pengembangan desa wisata, kita bisa mewujudkan masyarakat Kabupaten Pekalongan yang sejahtera berbasis potensi lokal,” sambungnya.

Sejumlah desa yang akan ditetapkan sebagai desa wisata di antaranya Desa Jolotigo, Kecamatan Talun, Desa Lemahabang dan Rogoselo (Kecamatan Doro), serta Desa Lolong, Pododadi dan Desa Pedawang (Kecamatan Karanganyar). Selain itu Desa Sidomulya, Kecamatan Lebakbarang serta Desa Lambur dan Tajur, Kecamatan Kandangserang.

 

 

Sumber : www.suaramerdeka.com