Asita Jateng Gelar AJMT 2018

by Admin 208 views

SEMARANG - Daya tarik Kota Semarang sebagai pintu masuk kunjungan wisata Jawa Tengah masih perlu dipacu. Demikian disampaikan Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Asita) Jawa Tengah, Joko Suratno saat conference pers Asita Jateng Travel Mart 2018 di Hotel Gumaya, Senin (12/2/2018).

Joko mengungkapkan, cukup sulit menjual atraksi wisata yang ada di Jawa Tengah. Kondisi tersebut disebabkan karena Semarang notabene sebagai pintu masuk penerbangan Jateng selain Solo belum begitu digandrungi.

Wisatawan yang hendak berkunjung ke atraksi wisata di provinsi ini cenderung lebih memilih mamakai pintu masuk Yogyakarta ketimbang dari Semarang atau Solo. Hal tersebut kemudian menjadi pertimbangan Asita memilih Kota Semarang sebagai tuan rumah AJTM 2018.

"Dipilih Semarang, karena gate utama menuju Jateng. Kami memandang perlu ada edukasi kepada para buyer bahwa jika mereka ingin berwisata ke Borobudur, Dieng, Karimunjawa, tidak perlu lewat Jogja. Semarang perlu dipromosikan, jujur susah menjual Semarang. Itu jadi kajian kami kenapa AJTM di Semarang," kata Joko.

Ia menambahkan, berbicara destinasi wisata, Jateng tidak kalah dibanding Jogja. Bahkan dari segi jumlah pun mampu bersaing. Tetapi untuk kontribusi pencapaian wisatawan Asing provinsi ini masih kalah dibanding tetangga Selatan.

"Di Jateng desa wisata saja sudah ada sekitar 300. Belum destinasi buatan. Untuk kontribusi terhadap pencapaian jumlah wisatawan domestik sebetulnya Jateng tidak kalah. Atau berada diurutan nomor tiga Indonesia setelah Jabar dan Jatim. Tapi di pencapaian wisatawan asing Jateng dengan Jogja masih banyak Jogja," imbuhnya.

Ironisnya lagi, kondisi tersebut berimbas pada melemahnya atraksi wisata Jateng. Ia mencontohnya, destinasi Candi Borbudur yang sejatinya berada di daerah pemeirntahan Jawa Tengah atau Magelang justru dikenal oleh kebanyakan wisatawan asing sebagai bagian dari Yogyakarta.

Hanya saja Joko menyadari, kondisi tersebut mungkin disebabkan karena atraksi wisata yang ada di Jawa Tengah menyebar disegala titik sehingga cukup sulit dikemas dalam sebuah paket wisata. Namun hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan karena terpenting adalah promosi.

"Pencapaian di 2017 wisatawan asing berkunjung ke Jateng mencapai 560 ribu. Sedangkan untuk wisatawan domestik saya lupa angkanya namun melebihi target atau urutan tiga terbanyak setelah Jabar dan Jatim," imbuhnya.

Ia berharap melalui AJTM 2018 ini bisa mengenalkan wisata-wisata yang ada di Jawa Tengah kepada travel agent dari daerah lain. Sehingga bisa memacu pertumbuhan dari segi bisnis pariwisata.

Sementara itu, Ketua Panitia AJTM 2018 Toni Hartanto menjelaskan, Asita Jateng Travel Mart merupakan hajatan rutin yang digelar tiap tahun. Tujuannya untuk mendongkrak kunjungan wisata di provinsi ini.

"AJTM sudah dilakukan sejak lima tahun lalu. Tahun pertama namanya Asita Travel Fair. Ini merupakan ivent reguler tahunan yang digelar secara mandiri oleh Asita. Tahun kedua diadakan di Lawang Sewu, kemudian sempat fakum dua tahun. Dan Tahun ini dilakukan lagi dengan mengubah nama, konsepnya bisnis to bisnsi sehingga otputnya adalah penjualan paket," ujarnya.

AJTM berlangusung selama dua hari 7-8 Maret 2018 di Hotel Gumaya Semarang. Dibuka dengan city tour berkeliling kota lumpia menggunakan bus si Kenang. Kemudian diisi kegiatan inti table top mempertemukan buyer dengan seller.

"Buyernya adalah para travel agent yang kami undang dari berbagai provinsi serta asia tenggara seperti Thailand, Singapura dan Malaysia. Sedangkan sallernya adalah berbagai industri seperti atraksi wisata, bus, rumah makan, restoran, maskapai penerbangan, hotel serta pelaku wisata lain," ujarnya.

Selama kegiatan berlangsung ia menargetkan AJTM akan dihadiri 80-170 buyer dan 45-79 seller. Acara ini juga diharapkan bisa dimanfaatkan sebagai ajang para anggota Asita Jateng mendapat relasi baru dari luar. (*)

 

 

Sumber : www.tribunnews.com