Mencari Wayang Di Wonogiri

Berawal dari obrolan santai di media sosial, lalu berujung pada sebuah pertemuan di dunia nyata untuk traveling bersama. Begitulah kami. Enam blogger dari berbagai kota seperti Jakarta, Semarang, Klaten dan Boyolali sepakat untuk menelusuri seluk beluk dunia pewayangan di bumi Wonogiri. Mengapa wayang? Mengapa Wonogiri?

Kami generasi milenial ini merasa belum tahu sama sekali tentang wayang, khusunya wayang kulit, sehingga ingin belajar langsung ke sumbernya. Dan rasanya Wonogiri adalah destinasi yang tepat karena ternyata wayang kulit menjadi salah satu potensi utama wisata budaya disana. Kota Solo menjadi pilihan meeting point kami. Tak pakai acara saling tunggu karena semua bisa datang tepat waktu.

Hari masih pagi ketika kami memulai perjalanan ini. Lalu lintas jalanan masih relatif sepi. Tidak banyak kendaraan berlalu-lalang sehingga kendaraan saya bisa melaju dengan kencang meski aspal selepas Sukoharjo arah Wonogiri tak lagi mulus dan mulai bergelombang.

Museum Wayang Wonogiri

Parahnya, kami semua buta arah di Wonogiri. Tidak ada yang tahu jalan, apalagi seluk beluk daerah ini. Hanya berbekal alamat hasil browsing dan panduan GPS dari google maps yang lebih sering offline karena sinyal di daerah sini masih labil. Tak jarang, kami pun berhenti sejenak di pinggir jalan untuk bertanya kepada penduduk sekitar.

Sekitar 15 kilometer berkendara dari pusat kota, setelah beberapa kali mobil kami melintasi hutan jati, sampailah di destinasi pertama. Museum Wayang Indonesia yang masih termasuk dalam wilayah administrasi kecamatan Wuryantoro, Wonogiri. Cukup mudah menemukan museum ini karena terletak di pinggir Jalan Raya Wonogiri – Pracimantoro km 13. Jujur saja, saya agak kaget melihat bangunan museum ini karena diluar ekspektasi. Wajar dong kalau saya membayangkan sebuah bangunan besar dengan koleksi beraneka ragam wayang karena di belakang nama museum ini ada embel-embel “Indonesia”-nya. Namun ternyata hanya berupa sebuah bangunan joglo kontemporer yang terlihat kurang terawat.

Memasuki halaman, kami disambut wajah sumringah Pak Katimin, salah satu penjaga museum. Keramahan khas Jawa Tengah begitu terasa dari sambutan beliau. Hangat. Pak Katimin pun lalu mengajak kami berkeliling melihat koleksi beragam jenis wayang dari berbagai daerah di Indonesia. Ada wayang kulit, wayang golek, wayang beber, wayang suket, wayang kumpeni, wayang klitik, wayang tembaga, wayang potehi dan masih banyak lagi. Ada sekitar 436 buah wayang yang dikoleksi disini. Museum yang diresmikan oleh presiden Megawati Soekarnoputri pada 1 September 2004 ini ternyata jadi satu dengan kompleks Padepokan Pak Bei Tani M Ng. Prawirowihardjo. Beliau adalah paman dari Soeharto, presiden Indonesia kedua. Disini pulalah Pak Harto menghabiskan masa kecil hingga masa remajanya ketika diasuh oleh sang paman. Masih terdapat peninggalan berupa bangku sekolah rakyat, pusaka dan foto-foto keluarga. Tanpa disangka, kami mencari wayang namun juga menemukan jejak masa kecil Pak Harto di Wonogiri.

Di bagian belakang pendopo, terdapat bak mandi dan sebuah sumur tua yang masih terawat hingga sekarang. Airnya jernih dan melimpah. Saya sempat menimba dan mengambil wudhu disini. Ya sebenarnya hanya sekedar untuk meredam perasaan aneh yang saya rasakan ketika berada di halaman belakang ini. Auranya begitu kuat, seperti ada sesuatu disini. Entah apa itu. Sementara saya iseng main di sumur, teman-teman lain hanya berani nyengir di kejauhan. Tak berani mendekat hihi.

Desa Wisata Kepuhsari Wonogiri

Matahari sudah terik ketika kami berpamitan untuk melanjutkan ke destinasi kedua menuju desa wisata Kepuhsari, Manyaran, Wonogiri. Pencarian desa pengrajin wayang kulit ini tak kalah epic karena berada di pelosok. Sinyal GPS tak bisa terdeteksi. Entah karena belum banyak tower provider disini, atau memang gawai saya saja yang jadul sehingga tak kuat menangkap sinyal. Karena GPS tak bisa dipakai lagi, kami pun nekad tanya sana-sini. “Ohh sudah dekat kok mas, pertigaan depan belok kiri, mentok lalu belok kiri lagi, nanti masuk hutan jati. Nah disitu ada gapura desa Kepuhsari. Lihat kanan jalan nggih.” Kata bapak-bapak setengah baya yang kami temui di pinggir jalan. Mendengar penjelasan itu kami cukup tenang. Alhamdulillah kalau sudah dekat. Perjalanan kami lanjutkan.

Hampir 30 menit berlalu. Mobil masih tetap melaju. Tak terlihat tanda-tanda gapura yang dimaksud. Jangan-jangan kami tersesat di hutan jati? Semua mulai terdiam cemas. Sembari mobil berjalan pelan, akhirnya kami sampai di gapura desa Kepuhsari yang dimaksud. Lega rasanya. Ternyata ukuran dekatnya warga lokal dan pendatang beda jauh hahaha. Meskipun berada cukup jauh, sekitar 41 Km dari pusat kota Wonogiri, namun terlihat sekali desa Kepuhsari sudah mendapatkan perhatian dari pemerintah. Para warganya sudah tergabung dalam kelompok sadar wisata (Pokdarwis Tetuka) binaan Disporapar Kabupaten Wonogiri. Rumah-rumah joglo khas Jawa pun sudah dipercantik karena juga dibuka sebagai homestay. Tak hanya turis domestik, sudah mulai banyak juga turis mancanegara yang berkunjung kesini untuk merasakan sensasi hidup menyatu dengan warga lokal meski hanya beberapa hari.

Saya dan teman-teman sempat belajar membuat wayang kulit di rumah Bapak Sutarno. Bukan belajar sih, lebih tepatnya ngrecokin beliau yang sedang asyik menatah wayang dari kulit lembu hehe. Di sebelah rumahnya, terdapat workshop dan gallery hasil kerajinan wayang kulitnya. Barangnya bagus-bagus dan unik. Harganya pun terjangkau, cocok untuk dijadikan hiasan rumah maupun buah tangan. Dari kunjungan singkat ke Wonogiri kali ini, rasanya kami belum mendapatkan esensi makna & filosofi tentang wayang kulit. Tapi paling tidak, kami sudah berhasil mencari wayang di Wonogiri. Sudah tahu dimana tempatnya. Oleh karena itu, suatu hari nanti, saya ingin kembali lagi ke Wonogiri untuk lebih menyelami kearifan lokal yang tersimpan disini. Menginap di homestay, menyatu bersama warga, belajar membuat wayang hingga latihan ndalang, menabuh gamelan, latihan tari jathilan, serta eksplorasi wisata alam di pegunungan karst yang mempesona. (Fahmi Anhar)