Satu Hari Berwisata Kuliner Di Kudus

Kudus, siapa yang belum kenal dengan kabupaten yang sarat dengan kisah dan jejak penyebaran ajaran Islam yang diperkenalkan oleh Sunan Kudus dan Sunan Muria ini? Kudus yang terletak di sebelah timur Semarang ini juga dikenal dengan julukan kota kretek, di mana Kota Kudus dianggap sebagai awal berkembangnya rokok kretek. Bahkan hingga sekarang masih berdiri beberapa perusahaan rokok nasional yang aktif berproduksi di sana.

Selain memiliki cerita sejarah dan budaya yang kaya, Kudus juga diberkahi oleh ragam makanan khas yang menggoyang lidah. Sebagian besar hidangan yang menggunakan bahan baku daging kerbau menjadi keunikan di sana. Pun dengan kemudahan jarak dan waktu untuk berburu makanan khas Kudus di tengah kota menjadi hal yang menyenangkan bagi wisatawan yang sedang singgah di Kudus. Lalu apa saja yang bisa dicicipi di Kota Kudus selama satu hari?

Susu Moeri

Persis di Jalan Pemuda no. 64, Panjunan, Kota Kudus terdapat tempat pemerahan susu sapi yang hasil perahannya bisa dinikmati langsung di sana. Jika beruntung, pengunjung juga bisa melihat langsung proses perah susu sapi yang kandangnya bersebelahan dengan meja saji dan kasir. Aneka rasa susu tersedia di Pemerahan Susu Moeria mulai jam 6 pagi hingga sore hari. Harga segelas susu sapinya bervariasi tergantung rasa yang diinginkan, mulai dari Rp4.500,- untuk susu tawar, hingga Rp11.000 untuk Susu Telur Madu Coklat. Jajanan dan kue basah yang diletakkan di depan meja kasir bisa menjadi teman minum susu di sana.

Lentog Tanjung

Setelah mengawali sarapan dengan susu segar Moeria, jangan lewatkan sarapan khas Kudus yang bernama Lentog Tanjung. Lentog merupakan lontong berukuran besar yang menjadi ciri dari lontong di Kudus. Irisan lentog akan dilengkapi dengan lauk berbahan dasar nangka muda atau gori, tapi beda dengan gudeg. Nangka mudanya dicacah agak lembut lalu dimasak dengan kuah santan yang telah diberi cabai dan bumbu yang lain. Ikut dilengkapi dengan lodeh tahu dan sambal jika menginginkan rasa lebih pedas.

Awalnya sajian ini berkembang di daerah Tanjung Karang, maka dari itu lebih akrab disebut oleh warga Kudus dengan nama Lentog Tanjung. Di kompleks Tanjung Karang, penjualnya mulai menjajakan Lentog Tanjung mulai dari pukul 6 hingga 10 pagi. Harganya murah meriah, hanya Rp4.000,- per porsinya. Oh ya, warung Lentog Tanjung juga mudah dijumpai di sepanjang Jalan R. Agil Kusumadya (sekitar Wisma Haji), Kudus.

Nasi Opor Sunggingan

Tak boleh dilewatkan juga Nasi Opor Sunggingan yang terletak di Jalan Nitisemito no.9, Sunggingan, Kota Kudus. Suwiran daging ayam yang sudah dipanggang dengan matang sempurna akan diletakkan di atas nasi putih hangat. Kemudian diguyur kuah opor kental di atasnya. Setelah itu diberi pelengkap sambal goreng tahu yang lezat. Penjual di sana akan menawarkan alat makan suru atau lipatan daun pisang sebagai sendoknya. Jika ragu, bisa mengambil sendok makan biasa yang telah disediakan di meja. Gurih santan bercampur dengan manisnya daging ayam panggang sukses menggoyang lidah di pagi hari.

Soto Kerbau

Nggak afdal kalau mampir ke Kudus namun belum menyempatkan diri untuk mencicipi Soto Kerbau, kata beberapa kawan. Ada beberapa warung dan rumah makan yang menyediakan Soto Kebo atau soto yang menggunakan daging kerbau. Salah satu yang pernah saya kunjungi adalah Warung Pak Ramidjan yang beralamat di Jl. Raya Kudus-Jepara no.79A, Kudus. Mereka mempunyai dua menu andalan, yaitu Soto Ayam Kudus dan Soto Kebo. Pada dasarnya kuah Soto Kebo Kudus berwarna bening dengan bumbu bawang merah, bawang putih, kemiri, laos untuk menyedapkan kuah kaldu yang direbus bersama irisan daging kerbau.

Bukan tanpa sebab kenapa hampir tidak ada yang menjual daging sapi di Kudus dan mereka menggantinya dengan daging kerbau. Hal tersebut diawali dengan kebijakan yang pernah dilontarkan oleh Sunan Kudus ketika beliau menyebarkan ajaran Islam di Kudus. Untuk menghormati warga yang masih menganut agama Hindu, beliau menganjurkan pengikutnya agar tidak mengonsumsi daging sapi. Dari situlah segala sajian yang semula menggunakan daging sapi diganti dengan daging kerbau. Kebiasaan itu terbawa hingga sekarang, bukti bahwa toleransi beragama telah diajarkan oleh para pemuka agama sejak zaman dulu.

Nasi Pindang Kudus

Selain Soto Kudus, Pindang Kudus juga bisa menjadi pilihan makan siang di Kudus. Penjaja Nasi Pindang Kudus yang terkenal adalah Warung Pak H. Sulichan yang terletak di Taman Bojana (sebelah Ramayana Simpang Tujuh). Ada dua pilihan pindang yang ditawarkan di sana, Pindang Ayam atau Pindang Kerbau. Kuahnya sekilas mirip dengan rawon ala Jawa Timur karena memiliki warna agak kehitaman. Kemiri, ketumbar, jahe, kencur yang sudah dihaluskan menambah rasa dari kaldu Pindang Kudus. Tak ketinggalan dibubuhi daun melinjo dan tentunya irisan daging kerbau yang sudah dimasak sampai tekstur dagingnya lembut.

Sate Kerbau

Satu lagi olahan daging kerbau yang tidak boleh dilewatkan, yakni Sate Kerbau. Ada sebuah warung sate yang terletak di sebelah Masjid Kudus yang selalu terlihat ramai usai maghrib. Asap dari proses pembakaran daging yang mengepul ke luar tenda sederhananya selalu menyebarkan bau yang menggugah selera makan setiap sore hingga malam hari. Warung Sate Kerbau Menara adalah tempat makan yang boleh dibilang populer bagi pemburu sate kebo atau sate kerbau di Kudus. Dengan kematangan daging yang pas ditambah saus kacang yang sudah dicampur dengan parutan kelapa bakar atau serundeng jadi andalannya. 

Sementara di warung yang lain, Jalan Kepodang atau sering disebut Gang Tiga juga mempunyai sajian Sate Kebo yang sama enaknya. Selain itu mereka juga menyediakan Sop Kerbau dengan kuah bening yang cocok jika dimakan bersama dengan sate dan sambal kacangnya. Satu piring berisi sepuluh tusuk sate daging kerbau ini memiliki harga mulai dari Rp25.000,- saja. 

Tahu Telur

Malam semakin larut bukan berarti semua tempat makan di Kota Kudus tutup semua. Warung yang menjual Tahu Telur justru masih bertahan hingga dini hari di sepanjang Jalan Sunan Kudus, Kota Kudus. Tahu Telur merupakan salah satu sajian khas Kudus yang cukup mengenyangkan dengan porsi satu piring berisi olahan tahu yang sudah dihancurkan dan mencampurnya dengan kocokan telur dan mengorengnya di atas wajan. Setelah tahu sudah matang, mereka akan menguyurnya dengan kuah kecap yang sudah diberi lumatan cabai dan kacang tanah goreng. Ada pun Tahu Gimbal yang isinya kurang lebih sama, dengan pembeda Gimbal atau peyek udang sebutan warga Kudus.

Gimana? Sudah cukup banyak kan ragam hidangan yang bisa dinikmati dari pagi hingga subuh di Kota Kudus? Mari dipilih dan jangan sampai menyesal jika berlibur ke Kota Kudus dan kembali melewatkan godaan daftar makanan yang telah ditulis di atas. (Halim Santoso)