Selogriyo, Pemandangan Alam Surgawi Di Magelang

Langit tampaknya tidak begitu bersahabat siang ini. Setelah shalat dhuhur di masjid kampung setempat, kami segera melangkahkan kaki untuk memulai trekking ke Candi Selogriyo. Candi itu terletak disebuah bukit yang bisa dikatakan berada di lereng Sumbing. Jarak tempuh kami dari parkiran motor sekitar 1,5 Km. Gerimis menyambut kami sesaat setelah saya berempat bersama Bagus Priyana, Laras, dan Tintony. memulai perjalanan. Kami merupakan rombongan yang tersisa dari sekitar 100-an anggota jelajah. Oleh Bagus Priyana – yang merupakan koordinator komunitas, kami diarahkan melalui jalur bawah yang melewati lembah. “Turis-turis biasa dilewatkan oleh kru dari Amanjiwo melewati jalur ini. Lebih seru dan menantang”. Katanya untuk mengiming-imingi kami.  

Setelah kami memakai jas hujan, jalan-jalan becek menyambut kami. Pematang sawah adalah menu utama, selain galuran – sebuah jalan kerbau yang licin dan berlumpur. Gemericik air sungai menemani kami sepanjang perjalanan dengan hamparan panorama epik perbukitan Giyanti. Akhirnya kami sampai di pelataran Candi Selogriyo hampir berbarengan dengan rombongan yang melewati jalur utama. Jalannya sudah dikonblok dan melewati lereng bukit. 

Mungkin mereka sudah lelah dan lapar. Sebuah warung yang berada disebelah candi sudah dibooking dan kami kebagian makan siang gratis dengan menu pecel. Antrinya mirip pembagian daging kurban. Saya mengalah dengan memesan segelas kopi saja. Toh saya juga masih bawa bekal dua potong roti sekedar untuk menahan lapar. Siang ini, Selogriyo cukup cerah, beda dengan suasana sepanjang trekking. Candi ini terlihat diikat dengan tali pengaman. Pasca perbaikan 2008 silam, dinyatakan bahwa kondisi tanah di sekitar candi ini labil dan juga rawan longsor. Oleh BPCB – selaku pengelola akhirnya bagian tubuh candi diperkuat dengan tali dengan harapan tidak mudah rubuh. 

Candi Hindu ini berada di ketinggian 704 mdpl dan secara administratif berada di Desa Kembangkuning Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang dan ditemukan oleh Residen Kedu pertama, Hartsman pada  1835. Menurut cerita yang berkembang candi dengan arti rumah dari batu ini merupakan candi yang dibangun oleh orang-orang pelarian dari Kerajaan Kadiri pada kisaran tahun 9 Masehi silam. Candi berukuran 4,2 meter persegi dengan ketinggian saya taksir 5-6 meter. Puncaknya model kemuncak dan berhias relief patung di masing-masing sisinya. Sayangnya, kepala patung-patung itu sudah tiada.

Berada di Selogriyo, serasa berada pada hamparan duplikat surga. Hijaunya rerumputan, dipadu dengan gagahnya perbukitan dengan udara yang sejuk. Meskipun waktu menunjukkan pukul tiga sore, rasa-rasanya kami tak ingin beranjak pulang dan masih ingin berlama-lama di sana. (Nur Khamid Anwar)

*Penulis dan artikel ini adalah Pemenang Lomba Blog Visit Jawa Tengah tahun 2015 periode 2