Curug Jlarang : Wisata Air Terjun Di Tengah Panorama Ubud-nya Pekalongan

Wisata di Kecamatan Lebak Barang Pekalongan, memang belum semoncer wisata kecamatan lain di Kabupaten Pekalongan. Meski begitu ada beberapa air terjun yang ikonik dari Lebak Barang, seperti Curug Cinde yang sudah terlebih dulu tenar di sekitar tahun 2005-an.

Pamor wisata Kecamatan Lebak Barang kembali naik, saat dibukanya Curug Jlarang secara resmi sekitar 2017 lalu. Perjalanan menuju Jlarang memang terbilang cukup jauh. Butuh waktu sekitar satu jam jika ditempuh dari Alun-alun Kajen. Akses ke Curug yang ada di Desa Sidomulyo ini terbilang cukup bagus, meski ada beberapa ruas jalan yang rusak. Meski begitu masih dapat dilalui walau agak sedikit menganggu kenyamanan.

Namun panorama di sepanjang jalan, mampu menyegarkan mata usai melewati akses jalan rusak. Pemandangan macam persawahan dan hutan menjadi salah satu yang khas. Selain itu pemadangan pedesaan di bawah jurang menjadi salah satu spot menarik. Tetapi jangan sampai pemandangan cantik ini mengalihkan fokus anda berkendara.  Jika ingin melihat lebih dekat, anda dipersilahkan menepi sembari menikmati pemandangan ini.

Setelah sampai di kompleks pengelola, nantinya kita akan dikenakan biaya sekitar Rp4 Ribu per orang. Di sini pengunjung juga bisa menyewa peralatan seperti pelampung ataupun ban. Biaya sewanya pun cukup terjangkau, hanya dengan merogoh kocek Rp5 Ribu.

Masih dibutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk menuju Curug Jlarang. Sepanjang perjalanan ini anda akan disuguhkan pemandangan laiknya persawahan khas Ubud Bali. Terlebih jika mendekati musim panen, hamparan padi yang menguning menambah gradasi warna pemandangan yang semakin apik. Panorama lembah dan pegunungan di sekitar Lebak Barang makin menambah pernak-pernik lukisan tuhan ini. Jangan lupa untuk mengabadikan momen indahmu di sini.

Meski tidak terlalu tinggi, namun  Curug Jlarang memancarkan kecantikan khasnya. Terlebih ia memiliki kolam dengan kedalaman sekitar 10 meter. Tak ayal kedalaman ini menjadikan air di sekitar curug berwarna hijau kebiruan.

Tak hanya satu curug, ada beberapa curug yang ada di sekitar area ini. Total ada sekitar dua curug tambahan selain curug inti. Meski yang satunya berada cukup jauh di hilir sungai.

Suasana dan airnya yang begitu menyegarkan mampu menghipnotis pengunjung untuk betah berlama-lama di sini, khususnya bagi yang ciblon mania. Selain itu penguji juga turut bisa melakukan body rafting dengan pelampung, atau juga bisa melakukan river tubing dengan ban yang disewa. Apalagi jika kondisi curug tidak terlalu padat pengunjung, berada di sini serasa mengunjungi Curug milik pribadi. Tapi jangan lupa untuk terus bermawas diri, terlebih jika anda tidak bisa berenang.

Perwakilan pengelola Curug Jlarag dari Bumdes Sidomulyo Udin dan Wahid menjelaskan Curug Jlarang sendiri dulunya dikenal sebagai tempat persembunyian pribumi saat masa penjajahan Belanda. Jika diamati di belakang curug terdapat gua, di sanalah para pribumi bersembunyi dari kejaran para kompeni.

"Kalau diamati betul dari dekat Curug, di belakang air terjunnya itu ada semacam gua. Nah dulu kalau kata para sesepuh itu tempat bersembunyi warga saat dikejar penjajah," jelasnya.

Tak hanya curug, aliran hilir Kali Menyep ini pun bisa dijadikan spot ciblon dan swafoto. Terlebih di sampingnya juga sudah dilengkapi gazebo untuk sekadar istirahat sembari menikmati pemandangan sekitar. Aliran air Kali Menyep ini pun juga dimanfaatkan untuk river tubing.
Untuk river tubing jarak pendek kurang dari 200 meter dipatok harga Rp15 Ribu. Sedangkan untuk jarak panjang, dipatok Rp35 Ribu per orang.

Jika sedang ramai jumlah pengunjung bisa mencapai ratusan orang ketika weekend. Hanya saja, semenjak pandemi Covid-19, jumlah pengunjung belum terlalu stabil.

"Kalau sebelum Corona, sehari ketika akhir pekan bisa ratusan pengunjung. Hanya saja karena ini masih pandemi, masih agak lesu. Sekitar 25-30 orang. Kalau weekend mungkin bisa 50 lebih. Semoga ke depannya bisa semakin membaik dan semakin diminati masyarakat," harapnya. (Novia)