Telusuri Sejarah Klenteng Sam Poo Kong Lewat Festival Arak-Arakan Cheng Ho 2022

Sabtu (30/7) mendatang menjadi hari peringatan kedatangan Laksamana Cheng Ho di Kota Semarang ke 617. Peringatan ini dikemas dalam sebuah Festival Budaya bertajuk Festival Arak-Arakan Cheng Ho.

Acara akan diawali dengan arak-arakan budaya dari Klenteng Tay Kak Sie di Pecinan lalu puncak acara bertempat di Klenteng Agung Sam Poo Kong di Jl. Simongan atau dikenal dengan Gedong Batu. Selain arak-arakan budaya, Festival juga dimeriahkan dengan pertunjukan Barongsai, Reog, Rampak Buto, dan tarian tradisional lainnya.

Kehadiran Festival ini sekaligus bisa menjadi momen istimewa bagi pengunjung untuk mengenal sejarah, terutama tentang kisah kedatangan armada Laksamana Cheng Ho dan asal muasal berdirinya Klenteng Agung Sam Poo Kong.

Dikutip dari sampookong.co.id, armada Laksamana Zheng He (Cheng Ho) merapat di Pantai Simongan Semarang pada 1416 karena juru mudinya, Wang Jing Hong, sakit keras. Lalu, Cheng Ho menjadikan sebuah gua batu sebagai tempat beristirahat dan pengobatan Wang Jing Hong. Sementara juru mudinya menjalani pengobatan, Laksamana Cheng Ho melanjutkan pelayaran ke arah timur. 

Selama di Simongan, Wang bergaul dan berinteraksi dengan masyarakat setempat. Pada 1417, untuk menghormati pemimpinnya, Wang membuat patung Cheng Ho. Inilah awal mula pembangunan Klenteng Sam Poo Kong.

Laksamana Cheng Ho terlahir dengan nama Ma San Bao. Itulah mengapa klenteng / tempat petilasan untuk Zheng He menggunakan nama Sam Poo Kong. Dalam dialek Hokkian, Sam Poo Kong atau San Bao Dong (Mandarin) artinya adalah gua San Bao. 

Wang meninggal pada usia 87 tahun dan dimakamkan di sekitarnya dan masyarakat menyebutnya sebagai Makam Kyai Juru Mudi.

Tahun 1704, gua batu runtuh akibat longsor, masyarakat membangun gua buatan yang letaknya bersebelahan dengan Makam Kyai Juru Mudi. Dalam perjalanannya, Klenteng Agung Sam Poo Kong sudah beberapa kali menjalani pemugaran. Revitalisasi besar-besaran dilakukan oleh Yayasan Sam Poo Kong pada Januari 2002 dan selesai pada Agustus 2005 bersamaan dengan perayaan 600 tahun kedatangan Laksamana Zheng He di pulau Jawa.

Bagaimana? Menarik bukan belajar sejarah lewat festival budaya. Yuk, eksplor lagi hal-hal menarik di sekitar kita. Karena sejarah adalah jembatan yang menghubungkan masa lampau dan masa kini juga masa datang. (Admin)