Kenangan Sepanjang Jalan Solo - Sragen

Selama perjalanan menuju destinasi, banyak sekali hal berharga yang dilihat dan ditemui. Begitu pula saat Anda berkunjung ke Kota Surakarta hingga Sragen. Banyak kenangan di masa lalu yang menarik untuk diketahui.

Apa saja kenangan yang bisa dijumpai sepanjang Jalan Solo -Sragen?

Bagaimana kisah di baliknya?

Berikut beberapa di antaranya :

Omah Londo, Gondang, Sragen

Kompleks Perumahan Sinder Gondang merupakan cagar budaya yang terletak di Gondang Baru, Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen. Masyarakat menyebut deretan rumah kuno ini dengan Omah Londo atau rumah Belanda. Dulunya, rumah-rumah tersebut merupakan rumah dinas para sinder atau mandor Pabrik Gula Kedoeng Banteng. Walaupun Omah Londo tidak digunakan lagi, namun orisinalitas arsitektur dan ornamen klasiknya mampu menarik wisatawan terutama generasi milenial sebagai salah satu spot swafoto. Tak heran jika Omah Londo menjadi ikon wisata Gondang. 

Jembatan Ganefo, Sragen

Jembatan Nasional Ganefo (Ganepo) berdiri diatas hamparan sungai Bengawan Solo yang menghubungkan Grobogan, Sragen Utara ke Sragen kota. Mungkin, masyarakat yang biasa melewati jembatan tidak banyak mengerti mengenai sejarah berdirinya Jembatan Nasional Ganefo.

Jembatan ini dibangun pada masa pemerintahan presiden Soekarno sejak awal tahun 1950-an dan selesai pada tahun 1963 tepat saat diselenggarakannya GANEFO 1 (The Games of The New Emerging Forces). Pada tahun 1963, Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan pesta olahraga negara-negara berkembang dan non blok tersebut. Event olahraga ini sukses melambungkan nama Indonesia di kancah olahraga dunia.

 

Stasiun KA Purwosari, Laweyan, Kota Surakarta

Di Kota Surakarta, terdapat beberapa stasiun peninggalan colonial Belanda seperti Stasiun Balapan sebagai stasiun tertua di Surakarta, Stasiun Purwosari yang dibangun pada tahun 1875 untuk meyabang jalur ke arah PG Colomadu dan PG Gembongan, kemudian disusul stasiun Jebres dan Stasiun Solo Kota.

Stasiun Purwosari terletak sangat strategis, di tengah kota dan mudah dijangkau. Stasiun Purwosari menjadi pemberhentian kereta komuter seperti Bathara Kresna yang membawa penumpang menuju Wonogiri dan sebaliknya. Selain itu masih ada lagi Kereta Uap Wisata Jaladara dan Kereta Prameks jurusan Yogyakarta. Stasiun KA kelas I ini juga sudah ditetapkan bangunan Stasiun Cagar Budaya.

 

Tugu Lilin atau Tugu Kebangkitan Nasional, Penumping, Laweyan, Kota Surakarta

Van Solo begin de victory ketika diterjemahkan kira-kira bermakna dari Solo kemenangan dimulai sebuah kalimat yang dikemukakan oleh dr. Soetomo saat hadir dalam peresmian tugu pada tahun 1948. Pembangunan monumen ini dimulai tahun 1933 untuk memperingati 25 tahun lahirnya hari Kebangunan atau Kebangkitan Nasional. Secara visual, tugu tersebut menggambarkan replika lilin yang menyala sebagai simbol dari semangat yang menerangi. Sedangkan wujud visual api, lilin, dan bagian lapik pada Tugu ini menggambarkan bentuk lingga-yoni yang berkembang pada masa Hindu-Buddha. Tugu ini terletak di sudut antara Jl. Kebangkitan Nasional dan Jl. Dr. Wahidin.

 

Patung Pahlawan Nasional Slamet Rijadi, Kota Surakarta

Patung Pahlawan Nasional Slamet Rijadi dapat Anda jumpai saat perjalanan dari Stasiun Purwosari ke arah timur. Namanya diabadikan menjadi nama jalan utama Kota Surakarta dan universitas.

Slamet Rijadi yang awalnya bernama Sukamto adalah pahlawan nasional kelahiran Surakarta tahun 1927. Di usianya yang masih sangat muda, ia turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan mengangkat senjata mengusir Jepang. Slamet Rijadi juga terlibat dalam berbagai aksi mempertahankan kemerdekaan melawan Belanda yang ingin Kembali menguasai Indonesia, yakni  Agresi Militer Belanda I dan II pada 1947 dan 1949.(Wiwin)