Nguter Sukoharjo : Tempat Nongkrong Minum Jamu Tradisional

Suwe ora jamu mas, jamu godong thela.

Suwe ora ketemu, temu pisan ora jamu!

Jamu sing pait wae isa nggawe mari, mosok kowe sing manis isa nggawe lara?

Yang jelas bukan jamu godhong thela (daun ketela), merga seprana seprene aku durung weruh jamu godhong thela. Yen kulupan, oseng, brambang asem terah iyo! Sudah pernah minum jamu godhong thela? Terlalu jauh ya, sudah pernah minum jamu? Belum ada jawaban. Sudah pernah lihat jamu? Ngerti jamu apa enggak?

 

Apakah kita sering melihat perempuan berkebaya mengenakan kain jarik menggendong keranjang bambu berisikan botol-botol minuman berjalan dari rumah ke rumah di perkampungan atau desa? However, kalau kita tinggal di apartemen yang sangat kompleks mungkin tidak pernah menjumpai mbok jamu semacam itu. Jauh sebelum obat modern diperkenalkan, masyarakat Indonesia sudah mampu melawan penyakit dengan resep obat tradisional tersebut.  Padahal kita lho seringnya minum tolakangen dan bejobintangtujuh dua sachet sekali teguk biar jadi orang pintar terus bejo sekalian. Tapi masih ngaku gak mengenal jamu.

 

Nah masih menyambung sejarah, sekarang ada satu tempat di Jawa Tengah yang menjadi sentra jamu, meski tidak tepat berada pada wilayah bumi Mataram tempat jamu berasal, tapi gak jauh-jauh banget, Klaten-Sukoharjo masih berdampingan.

 

Sentra produk jamu berada di Nguter Sukoharjo, di kampung Semar (Esem Manis Anak Makmur) inilah hampir setiap warga memproduksi jamu. Beberapa meter ke timur kita akan menemui Pasar Jamu Nguter yang menjual aneka produk jamu. Bahkan berkat eksistensinya melestarikan budaya minum jamu sebagai warisan leluhur, Sukoharjo dinobatkan sebagai  Destinasi Wisata Jamu pada tahun 2019. Tak lama berselang, pandemi Covid-19 melanda dunia tak terkecuali Indonesia. Budaya agraris masyarakat Indonesia yang suka memelihara tanaman obat dan memiliki apotek hidup kembali menemui titik terang. Obat herbal termasuk jamu didalamnya semakin melengkapi kesadaran masyarakat akan pentingnya ‘back to nature’ dan mulai dicari.

 

Bagi masyarakat Jawa, jamu juga familiar dengan sebutan jampi, bahkan jamu sendiri kadang dipanjangkan menjadi Jampi Usada. Secara terpisah keduanya sama-sama memiliki arti sebagai obat. Tapi jampi disini jangan disamakan dengan jampi-jampi ya sobat Jateng Gayeng! Sebab jampi-jampi saat ini bermakna sihir atau mantera hingga masuk ranah guna-guna. Oleh karena kesan lama mengandung arti yang agak magis, jamu diganti dengan istilah obat tradisional. By the way kalau mau nge-jampi mantan hingga gebetan, di pasar jamu  Nguter sudah tersedia tempat nongkrong yang diklaim sebagai kafe jamu pertama di Indonesia. Disini kita bisa mendapati cafe yang tidak menyajikan kopi melainkan herbal drink jejamon. Cobalah menikmati segelas beras kencur atau kunyit asem bersama orang tersayang, itulah yang dimaksud nge-jampi dalam proses move on .

 

Tidak perlu malu menguri-uri jamu, sebab jamu adalah tradisi turun menurun dan warisan nenek moyang yang sudah ada sebelum kerajaan Majapahit berdiri. Tapi meski belum ada bukti ilmiah, masyarakat Indonesia lebih suka kerokan daripada minum jamu untuk menghilangkan masuk angin, baru sekarang aja kembali melirik ramuan tanaman herbal.

 

Sejarah mengatakan jamu sudah mulai diracik sebelum dinasti Syailendra membangun Borobudur. Warisan nenek moyang dinasti Sanjaya pada masa Mataram Kuno yang sudah digunakan sebagai obat penyembuh ini, awalnya diformulasikan oleh insan-insan kesehatan kerajaan di sekitar gunung Perahu, gunung Sumbing, Gunung Merapi, Gunung Sindoro, Gunung Merbabu, Gunung Lawu, dan Pegunungan Sewu. Memang disanalah letak bumi Mataram Kuno yang berjaya sekitar tahun 700 M.

 

Ada yang gak setuju kalau ini jamu? Apapun maknanya dan bagaimana keakuratannya tidak perlu diperdebatkan, yang jelas jamu adalah ramuan tradisional sebagai salah satu upaya pengobatan yang dimanfaatkan masyarakat dengan tujuan dapat mengobati penyakit ringan, mencegah datangnya penyakit, menjaga kesehatan dan ketahanan tubuh. Paling tidak kita harus mengenali jenis jamu berikut:

  1. Kunir asem (kunyit asam) terbuat dari kunyit dan asam jawa. Kandungan curcumin pada kunyit dipercaya mengobati nyeri haid, thalassemia hingga alzheimer.
  2. Beras kencur, sesuai namanya jamu ini terbuat dari ekstrak kencur dan beras yang diyakini dapat meringankan diare dan mengobati infeksi,
  3. Temulawak, pastinya terbuat dari rimpang temulawak yang dihipotesakan memiliki antioksidan, meningkatkan nafsu makan, mengatasi gangguan pencernaan serta perut kembung.

 

Cara penyajian instan herbalpun sangat mudah, jamu serbuk cukup dituangkan ke dalam cangkir (gelas juga bisa), tambahkan air panas matang kurang lebih 200 ml, aduk sampai rata lalu siap dihidangkan. Enak dinikmati saat hangat ataupun dingin ditambah es. Secangkir Temulawak bersanding dengan Beras Kencur supported by Sabdo Palon SKH. Enak, Sehat, Segar dan Berguna.

Selain diatas, tentunya masih banyak lagi jenis obat tradisional (jamu) yang bisa kita dapatkan. Bagaimana, ingin melupakan mantan dan memulai kehidupan baru dengan jamu? Nguter Sukoharjo adalah tujuannya.