Sangiran : 'Rumah' Manusia Zaman Purbakala

“Kamu nggak pingin dolan ke Jawa Tengah ta, Jateng Gayeng lho!”

“Enggak, lagi pingin berhenti berharap, Roro Jonggrang udah dibuatin candi ma Bandung Bandawasa”

Eits! Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar wisata Jawa Tengah? Pasti candi kan? Tunggu dulu! Boleh saja kecewa karena mas Bandung bisa membangun seribu candi dalam waktu satu malam untuk mbak Jonggrang. Namun, pesona Jawa Tengah tidak hanya tentang candi dan sisa-sisa  peninggalan kerajaan Hindu-Buddha lho. Terdapat beberapa destinasi wisata yang tak kalah indah dan mengagumkan untuk dikunjungi. Situs Purbakala Sangiran adalah salah satunya.

 

Sangiran, benar sekali! Situs arkeologi terlengkap di Asia yang secara administratif berada di wilayah kabupaten Sragen dan kabupaten Karanganyar ini menyimpan belasan ribu fosil Homo erectus yang merupakan  Nenek Moyang Manusia pertama, termasuk didalamnya fosil binatang dan batu-batuan. Fosil Pithecantropus erectus (Manusia Jawa) dari kehidupan Zaman Batu Tua (Paleolithikum) sekitar dua juta tahun lalu juga menjadi salah satu kekayaan arkeologis pada situs yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada tahun 1996 dengan nama “Sangiran Early Man Site” ini.

 

Potensi sumberdaya budaya milik kita sangat melimpah, Sangiran adalah salah satu khazanah budaya (cultural properties) yang diakui sebagai Warisan Dunia. Namun jika berhenti dan berpuas diri tanpa adanya pemeliharaan yang berkelanjutan, bukan tidak mungkin khazanah wisata kita ini dicoret dari daftar World Heritage karena dalam perjalanannya tidak memenuhi syarat-syarat yang berlaku. Lantas, apa tugas kita? Tentu tidak cukup dengan berbangga diri.

 

Kampung penyuguh fosil purba yang sebelumnya disebut ‘balung buto’ (re: tulang raksasa) oleh masyarakat Sangiran ini tidak sekedar menjadi missing link pada mata rantai evolusi peralihan manusia primitif menuju manusia modern. Lebih dari itu, bagi ilmu pengetahuan Sangiran adalah sebuah acuan purbakala dunia. Generasi kekinian wajib mengerti, situs Sangiran tidak hanya memiliki definisi ‘Fosil dan Fosil’.

Ubahlah mindset yang sering membayangi kita, menjaga Sangiran tidak hanya menjaga tulang, alat-alat batu hasil budaya manusia purba serta lapisan tanah purba yang dapat menunjukkan perubahan lingkungan alam sejak 2 juta tahun silam yang lalu tanpa terputus juga merupakan kekayaan arkeologis Sangiran yang harus digelorakan keberadaannya sehingga tidak hilang digerus zaman. Selain itu ketentraman alam sekitar serta keramahan masyarakat sudah menjadi identitas bahwa Sangiran adalah refleksi bagi bangsa sebagai destinasi wisata yang mengusung unsur ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang perlu dijaga eksistensinya.

Bagaimana ? Bertolak ke Desa Krikilan, Kalijambe, Sragen berbekal rupiah yang tak sampai 10.000 mendapatkan fasilitas upgrade wawasan sejarah serta memanjakan mata dalam hamparan 5.900 hektar dengan pemandangan masa lalu. Sapa ngerti pulang-pulang menggandeng masa depan! Sungguh menarik bukan, sebuah tempat yang akan mengajari kita tentang punah atau memilih bertahan? Kenyataan ini hanya akan kita dapatkan jika mengunjungi Sangiran. (Wiwin)