Warna Warni Kampung Pecinan Sudiroprajan Surakarta

Interaksi antar sesama anggota masyarakat yang berbeda etnik dan kebudayaan di Nusantara telah berlangsung selama ratusan tahun, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Tak dipungkiri menjadi penyebab budaya Tionghoa meresap erat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pakaian Madura, Musik Gambang Kronong, Sisingaan Sunda, Pis Bolong dalam ritual agama Hindu di Bali, Membajak sawah menggunakan sapi, Petasan, Bedug, Batik Jawa Utara serta teknologi membuat makanan yang telah menjadi kuliner nusantara seperti: Mie, Bakwan, Bakso, Onde-onde, Bakpia, Bakcang, Bakmi, Soto, Lumpia, Ronde, Nasgor, Tahu, Batagor, Cakwe, Siomay, Lapis, Kue Bantal dan lain sebagainya adalah wujud kontribusi Tionghoa dalam budaya lokal nusantara. Ternyata, tradisi dan budaya dalam kehidupan masyarakat telah mengalami akulturasi antara satu budaya dengan budaya yang lainnya. Jika Rembang memiliki Lasem, maka Surakarta memiliki Sudiroprajan hingga kawasan Pasar Gede.

Sudiroprajan, Jebres, Surakarta, Jawa Tengah

Kelurahan yang menjadi letak Pasar Gede Hardjonagoro, pasar tradisional terbesar di Surakarta. Terdiri dari empat kampung seperti: Balong, Pasar Gede, Samaan, dan Sudiroprajan. Tempat inilah yang menjadi asal lahirnya Grebeg Sudiro yang merupakan festival perpaduan dari masyarakat Tionghoa-Jawa. Di sudut inilah kita dapat melihat etnis Tionghoa dan Jawa hidup berdampingan, melebur hingga terjadi pernikahan campuran antar dua budaya dan melahirkan generasi-generasi akulturasi dari adat dan kebiasaan yang berbeda.

Saat Imlek (perayaan tahun baru China) tiba, arak-rakan yang mengusung gunungan disekitar kawasan Sudiroprajan diikuti pawai dari budaya Tionghoa dan Jawa (Barongsai, reog hingga pakaian tradisional) akan berhenti di depan Klenteng Tien Kok Sie Pasar Gede, dimana semua perayaan ini diakhiri dnegan menyalakan lampion. Hingga akhirnya tradisi ini tidak hanya milik kota Solo, namun meluas menjadi harmoni budaya Nusantara yang syahdu.

Kali Pepe juga tidak luput dari pandangan Kelompok Sadar Wisata kota Solo, tiap musim tahun baru imlek kawasan ini berubah menjadi area wisata susur sungai dengan perahu yang hanya membutuhkan rupiah 10.000. Kini, ,manisnya perayaan imlek tidak hanya milik masyarakat Tionghoa namun juga seluruh masayarakat.

Datanglah ke kampung Pecinan Sudiroprajan di kota Berseri ini. Selain wisata budaya, Anda dapat menikmati kuliner khas Kota Solo. Rasakan gurihnya sup berkuah di Timlo Sastro di Pasar Gede Timur No. 1. Atau rasakan kesegaran es dawet telasih Bu Dermi di dalam Pasar Gede. Hidangan dan kudapan khas Solo lainnya, seperti nasi liwet dan tengkleng juga dapat dijumpai di sekitar Pasar Gede. 

Ini saatnya Anda berwisata budaya sekaligus wisata kuliner di Kampung Pecinan Sudiroprajan Surakarta. (Wiwin)